Martin McDonagh Sebut Wild Horse Nine Film Paling Politisnya

Martin McDonagh Sebut Wild Horse Nine Film Paling Politisnya
Sutradara Martin McDonagh saat menerima penghargaan di Zurich Film Festival.

NUSAAKSARA.COM — Sutradara Martin McDonagh menyatakan Wild Horse Nine sebagai film paling politis yang pernah ia garap. Pernyataan itu disampaikannya saat menerima penghargaan Tribute to… Award di Zurich Film Festival. Film komedi gelap ini dibintangi John Malkovich dan Sam Rockwell sebagai dua agen CIA yang dikirim ke Pulau Paskah menjelang kudeta Chile 1973.

Martin McDonagh tidak lagi ingin bersikap netral. Di atas panggung Zurich Film Festival, sutradara asal Irlandia itu menyebut Wild Horse Nine sebagai karya yang paling terang-terangan membawa pesan politik sepanjang kariernya. Ia bahkan menyebut peluncuran film ini sebagai momen melepas "monster" ke dunia.

"This is probably my most political film. That's why I find it very exciting to be releasing this monster into the world," ujar McDonagh di hadapan penonton festival.

Baginya, sikap apatis terhadap persoalan zaman justru jadi masalah tersendiri di dunia seni. McDonagh menilai terlalu banyak karya yang memilih diam dan tidak punya pendirian.

"I feel like, in the modern day, there's perhaps a little too much artistic neutrality, or too much saying nothing, not having an opinion or being apathetic. I'm excited to be doing the opposite with this one," lanjutnya.

Sinopsis Wild Horse Nine: Agen CIA di Pulau Paskah

Wild Horse Nine adalah komedi gelap yang mengikuti dua agen CIA, diperankan John Malkovich dan Sam Rockwell, dalam perjalanan ke Pulau Paskah. Latar waktunya sebelum kudeta Chile pada 1973.

Meski berlatar puluhan tahun lalu, McDonagh melihat film ini justru terasa relevan dengan situasi sekarang. Ia menyebut banyak peristiwa masa kini yang mencerminkan intervensi serupa di masa lampau.

"So many things in the present day mirror a lot of those types of interventions in the past. You can actually hear lines that I thought were about 1973 being interpreted by a modern audience as being about Venezuela a few months ago or other places around the world," katanya.

Ia juga menyoroti lelucon soal Rusia dalam film yang awalnya ditulis untuk konteks intervensi di Finlandia 100 tahun silam, namun kini dibaca penonton sebagai sindiran atas Ukraina.

"The Russia jokes in the film are about their interventions in Finland 100 years ago, but we connect them to Ukraine now. I love that it has a resonance I wasn't necessarily aware of in the writing of it," ujar McDonagh.

Karier dari Radio Play hingga Panggung Oscar

Dalam sesi masterclass di festival yang sama, McDonagh menoleh ke belakang pada awal kariernya. Ia meninggalkan sekolah di usia 16 tahun dan sempat menganggur lama, tetapi sudah bercita-cita jadi penulis.

"I left school very young, at 16, and was unemployed for a long time. But with the hopes of being a writer. Part of that was not wanting to have a real job or a boss. That has remained with me until now," kenangnya.

Ia menulis sejumlah radio play yang semuanya ditolak, sebagian besar oleh BBC. McDonagh mengaku tidak menyimpan dendam atas penolakan itu.

Dari sana ia beralih ke teater dan menjadi penulis naskah panggung yang diakui. Salah satu momen penting baginya adalah menyaksikan Al Pacino tampil dalam American Buffalo karya David Mamet.

"I can still remember it to this day. He just came on stage and blew the whole theater away. It was this combination of a play, full of energy and swearing, amazing dialogue and this movie star who, well, you'd realize what acting really was when he was on stage," tuturnya.

Transisi ke dunia film tidak berjalan mulus. McDonagh mengaku justru terpacu oleh penolakan-penolakan buruk yang ia terima. Meski begitu, film pendeknya Six Shooter (2004) berhasil meraih Oscar untuk kategori Best Live Action Short Film.

"It was probably the scariest situation I've been in artistically. But the wonderful thing was having Brendan Gleeson be part of it. He protected me from any interference. I couldn't have done it without his help and guidance," ujarnya.

Bruges, Lelucon Hitman, dan Aktor yang Melindungi

McDonagh lalu bekerja sama lagi dengan Brendan Gleeson lewat In Bruges, yang juga dibintangi Colin Farrell. Film itu mengisahkan dua pembunuh bayaran yang bersembunyi setelah misi gagal.

Dalam sesi itu, McDonagh melontarkan lelucon soal masa lalunya sebagai "hitman". Ia menyebut orang-orang mengira kariernya hanya berkutat pada teater lalu film.

"I used to be a hit man. People don't know that. They thought it just was plays and then films. It was plays, killing and then films," candanya.

Ia juga bercerita soal pengalaman pertamanya ke Bruges. Kota itu ia nilai sangat sinematik, meski ia sempat dilanda kebosanan dan kecewa karena seseorang yang hendak ia temui tak muncul.

Di In Bruges, McDonagh kembali merasa dilindungi para aktor utamanya dari campur tangan pihak lain. Ia menyindir soal orang-orang di Hollywood yang ia sebut "anak-anak dengan banyak uang".

"Colin and Brendan were great partners in protecting me from any interference from the grown-ups. Who aren't usually grown up; they're children with a lot of money. It's the nature of Hollywood," katanya.

Perubahan Nada: dari Keren ke Kontemplatif

McDonagh mengaku ada pergeseran dalam pendekatan penulisannya. Ia kini berusaha memastikan filmnya tidak hanya soal tampil keren, tapi juga menyentuh sesuatu yang lebih dalam dan tragis.

Ia memberi ruang lebih besar untuk adegan kontemplatif, ketika karakter duduk sendiri dan merenungi hidup atau penyesalan mereka. Pendekatan itu terlihat pada Frances McDormand sebagai Mildred Hayes di Three Billboards Outside Ebbing, Missouri, dan kini pada John Malkovich di Wild Horse Nine.

"When they're great actors like Frances or John, you see the sadness in their eyes, and you fill in what they're thinking about. One of the ideas for John's character was to give him the entire palette of emotions," ujarnya.

McDonagh menegaskan film-filmnya bukanlah "Hollywood movies" dalam arti cerita sederhana yang menghibur semata. Ia justru ingin aktor-aktor besar yang sudah pernah bekerja di produksi semacam itu mendapat ruang untuk sesuatu yang lebih berbobot.

Wild Horse Nine menambah daftar panjang karya McDonagh yang bergerak di antara humor gelap dan tragedi. Kehadirannya di Zurich Film Festival sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu penulis-sutradara yang paling konsisten menolak sikap netral di dunia perfilman internasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index