IHSG Melemah 4,02% Sepekan ke Level 5.991, Net Sell Asing Rp 241,86 Miliar

IHSG Melemah 4,02% Sepekan ke Level 5.991, Net Sell Asing Rp 241,86 Miliar
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali meninggalkan level 6.000 setelah berbalik melemah 0,30% ke posisi 5.991,53 pada pembukaan perdagangan Jumat (2/10/2026). Pelemahan ini memperpanjang tren negatif IHSG sepanjang pekan, dengan koreksi mencapai 4,02% dalam lima hari terakhir. Tekanan jual asing yang masih berlanjut menambah beban pasar saham domestik.

Data RTI Business menunjukkan IHSG sempat menguat tipis 0,06% ke level 6.012,84 sekitar pukul 09.05 WIB. Indeks bergerak dari posisi pembukaan 6.018,08 sebelum akhirnya berbalik arah hanya dalam hitungan menit. Pada pukul 09.10 WIB, IHSG sudah melemah 0,30% ke level 5.991,53.

Koreksi ini bukan kejadian sehari. Sepanjang sebulan terakhir, IHSG telah merosot 9,72%, mencerminkan tekanan jual yang cukup merata di hampir semua sektor.

Tekanan Jual Asing Masih Berlanjut

Pada perdagangan Kamis (1/10), IHSG mencatat net foreign sell sebesar Rp 241,86 miliar. Sepanjang tahun 2026, akumulasi net sell asing sudah mencapai Rp 81,28 triliun.

Angka tersebut menunjukkan investor asing belum menemukan alasan kuat untuk kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Tekanan eksternal dan ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang menahan minat beli.

Mayoritas Saham Tertekan, Kapitalisasi Pasar Rp 10.586 Triliun

Dari sisi breadth pasar, jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat. Berikut rincian pergerakan saham pada pembukaan perdagangan:

  • 215 saham menguat
  • 329 saham melemah
  • 186 saham stagnan

Volume perdagangan tercatat 39,09 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 2 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai 206.100 kali. Kapitalisasi pasar saat ini berada di level Rp 10.586 triliun.

Apa Artinya bagi Investor

Posisi IHSG yang kembali di bawah 6.000 menempatkan indeks pada level yang terakhir kali terlihat cukup lama. Bagi investor jangka pendek, volatilitas tinggi dalam lima hari terakhir menjadi sinyal untuk lebih selektif memilih saham.

Investor jangka panjang bisa melihat koreksi ini sebagai peluang akumulasi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang fundamentalnya masih solid. Namun, arus keluar dana asing yang belum berhenti menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada sentimen global, termasuk arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan perkembangan harga komoditas. Tanpa katalis positif yang jelas, tekanan jual diperkirakan masih membayangi pasar saham domestik dalam jangka pendek.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index