BI Klaim Insentif Hedging Tarik Dana Asing Rp162,39 Triliun via FX Swap dan DNDF

BI Klaim Insentif Hedging Tarik Dana Asing Rp162,39 Triliun via FX Swap dan DNDF
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan insentif biaya hedging mendatangkan aliran dana asing US$8 miliar hingga US$9 miliar.

NUSAAKSARA.COM — Bank Indonesia mencatat insentif biaya lindung nilai atau hedging mendatangkan aliran dana asing US$8 miliar hingga US$9 miliar, setara Rp144,35 triliun sampai Rp162,39 triliun dengan asumsi kurs Rp18.044 per dolar AS. Dana itu masuk melalui transaksi foreign exchange swap dan domestic non-deliverable forward sejak insentif diberikan akhir Juni lalu. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut langkah tersebut sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

"Insentif biaya hedging yang juga sudah kami berikan sejak akhir bulan Juni yang lalu, dan hingga saat ini sudah bisa mendatangkan inflow, baik dalam bentuk FX swap ataupun dalam bentuk DNDF senilai sekitar US$8 miliar sampai US$9 miliar," ujar Destry dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (19/10).

Intervensi Pasar Valas Tetap Jalan Bersamaan

Selain insentif biaya hedging, BI tetap melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot, DNDF, dan non-deliverable forward. Destry menyatakan bank sentral akan terus memantau pergerakan rupiah di tengah volatilitas pasar global.

Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kondisi ekonomi global, termasuk inflasi yang belum mencapai target di sejumlah negara dan ketidakpastian arah suku bunga bank sentral AS The Fed. Presiden Prabowo Subianto, menurut Destry, meminta BI terus mengupayakan kebijakan yang tersedia untuk menjaga stabilitas.

"Intinya Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar. Kami diminta juga oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto) untuk terus melihat, upayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki, apakah itu bentuknya intervensi di spot, DNDF, dan NDF ataupun juga dalam bentuk insentif biaya hedging," ujarnya.

Inflasi Inti September 2,8 Persen, Pangan Bergejolak 5 Persen

Dari sisi harga, inflasi inti pada September terkendali di level 2,8 persen. Inflasi pangan bergejolak atau volatile food mencapai 5 persen, di atas sasaran BI sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Untuk mengendalikan inflasi pangan, bank sentral akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian agar laju harga kembali berada dalam rentang sasaran. Koordinasi ini menjadi bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus stabilitas makro.

Rupiah Relatif Stabil di Tengah Gejolak Pasar Global

Destry menambahkan rupiah relatif stabil dalam dua hari terakhir meskipun pasar global masih bergejolak. Pergerakan tersebut sejalan dengan perlambatan yang terjadi di sejumlah negara pasar berkembang.

Bagi pelaku pasar valas dan investor obligasi, kombinasi insentif hedging dan intervensi tiga instrumen menjadi sinyal bahwa BI memprioritaskan stabilitas nilai tukar ketimbang membiarkan rupiah mengikuti arus keluar modal global. Imbasnya, biaya lindung nilai bagi korporasi yang punya utang valas berpotensi lebih terkendali.

BI menyatakan akan terus menjaga stabilitas rupiah, baik dari sisi nilai tukar maupun inflasi, sembari memantau perkembangan ekonomi global. Belum ada keterangan mengenai berapa lama insentif biaya hedging akan dipertahankan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index