NUSAAKSARA.COM — Lulusan Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Ponorogo 2018, Maha (31), memilih bekerja sebagai asisten rumah tangga di Taiwan dengan penghasilan sekitar Rp 10 juta per bulan. Keputusan itu diambil setelah gaji setara UMR di Jember habis untuk kos dan kebutuhan hidup, sementara utang keluarga menumpuk.
Maha sempat bekerja dua tahun di Perhutani KPH Jember, di divisi sumber daya manusia dan keuangan. Penghasilan setara upah minimum regional saat itu tak menyisakan ruang untuk menabung, apalagi membantu melunasi utang orang tuanya.
"Awalnya sudah bosan banget gajiku habis buat bayar kos dan biaya hidup di luar kota, bahkan aku enggak bisa nabung karena gajiku cuma UMR," kata Maha kepada CNBC Indonesia.
Dari Kantor Perhutani ke Rumah Empat Lantai di Taiwan
Maha mulai mencari pekerjaan yang tidak menuntut biaya tempat tinggal. Dari situ muncul gagasan bekerja sebagai ART di Taiwan, keputusan yang ia sendiri sebut nekat.
Selama di Taiwan, Maha memasak tiga kali sehari, membersihkan rumah empat lantai milik majikannya, mencuci pakaian dengan mesin maupun manual, dan berbelanja ke pasar. Sesekali ia membantu menjaga bayi ketika cucu majikannya berkunjung.
Beban kerja itu pernah membuatnya tertidur di kamar mandi. Meski demikian, penghasilan sekitar Rp 10 juta per bulan mengubah kondisi finansialnya secara signifikan.
"Yang pasti bersyukur semua utang yang aku tanggung sudah lunas di tahun pertama aku kerja di Taiwan," ujarnya.
Utang Lunas di Tahun Pertama
Pelunasan utang keluarga terjadi dalam 12 bulan pertama kerja. Capaian itu yang menjadi pembenaran utama keputusan Maha meninggalkan pekerjaan kantoran, di luar pertimbangan pengembangan diri.
Maha mengaku belajar beradaptasi dengan lingkungan, budaya, dan bahasa yang berbeda. Ia menilai pengalaman itu memperluas cara pandangnya, bukan sekadar menambah penghasilan.
Soal gelar sarjana, Maha menolak anggapan pendidikannya sia-sia. Menurutnya, pendidikan membentuk pola pikir, kemampuan mengelola emosi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain.
"Kerja sebagai ART menurutku bukan hal sepele. Aku enggak merasa pendidikanku sia-sia hanya karena aku jadi ART, malah itu jadi nilai plus menurutku," katanya.
Bukan Kasus Tunggal
Cerita Maha yang dibagikan lewat akun Threads @noraisaly*** mengundang respons serupa dari warganet. Sejumlah pengguna mengaku menempuh jalur yang sama.
- Pengguna @maufy_i*** mengaku lulusan D1 Administrasi 2012, sempat menjabat kepala gudang, lalu mengundurkan diri dan bekerja sebagai ART di Hong Kong. Ia mengaku betah enam tahun di majikan yang sama.
- Pengguna @austin698*** mengaku lulusan S1 Ekonomi jurusan Manajemen dan kini bekerja sebagai ART di Singapura.
Dua pengakuan itu menunjukkan pola yang lebih luas: gelar pendidikan tinggi tidak lagi otomatis sepadan dengan penghasilan di dalam negeri. Bagi sebagian lulusan, selisih antara upah domestik dan upah kerja rumah tangga di luar negeri menjadi alasan utama migrasi kerja.
Hitung Ulang Daya Tarik Upah Domestik
Kasus Maha memperlihatkan satu hal konkret: upah setara UMR di kota perantauan tidak cukup menutup biaya tempat tinggal dan sisa untuk menabung. Ketika biaya hidup memakan hampir seluruh pendapatan, pekerjaan dengan akomodasi gratis di luar negeri menjadi opsi rasional secara hitungan cash flow bulanan.
Bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan ketenagakerjaan, cerita ini menjadi sinyal soal daya saing upah entry level di sektor formal daerah. Selama selisihnya sebesar ini, arus tenaga kerja terdidik ke pekerjaan rumah tangga lintas negara akan terus terjadi.