NUSAAKSARA.COM – Roti sourdough kerap dianggap sebagai bagian dari tren roti artisan modern. Teksturnya yang khas, rasanya yang sedikit asam, dan proses pembuatannya yang alami membuat roti ini digemari banyak orang. Namun, di balik popularitasnya saat ini, sourdough menyimpan sejarah panjang yang berawal ribuan tahun lalu.
Jauh sebelum ragi komersial dikenal, sourdough merupakan metode asli manusia dalam membuat roti. Teknik fermentasi alami ini bahkan menjadi fondasi awal tradisi memanggang yang masih bertahan hingga sekarang.
Dikutip dari laman Food Culture Bites, Sabtu (31/1/2026), praktik fermentasi alami pada adonan tepung diperkirakan telah dikenal sejak manusia mulai bertani dan mengolah biji-bijian sekitar 10.000 tahun lalu. Pada masa itu, tepung yang dicampur dengan air dan dibiarkan pada suhu ruang berpotensi mengalami fermentasi alami akibat aktivitas ragi liar dan bakteri di lingkungan.
Proses tersebut membuat adonan mengembang secara alami. Dengan menyimpan sebagian adonan untuk digunakan kembali, masyarakat kuno kemudian mengembangkan teknik fermentasi berkelanjutan yang kini dikenal sebagai starter sourdough, yang menjadi dasar pembuatan roti beragi pada peradaban-peradaban awal, termasuk Mesir Kuno.
Akar Roti Artisan dari Peradaban Kuno
Bangsa Mesir kuno tercatat sebagai salah satu peradaban pertama yang secara sengaja memanggang roti beragi. Sekitar 1500 tahun sebelum Masehi, roti sourdough telah menjadi makanan pokok, dipanggang menggunakan oven sederhana dan dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat.
Teknik ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh bangsa Yunani dan Romawi. Pembuatan roti tidak lagi sekadar kebutuhan dasar, melainkan berubah menjadi keahlian yang dihormati. Meski demikian, pada masa itu sourdough masih dianggap sebagai roti sehari-hari, bukan produk eksklusif seperti yang dikenal sekarang.
Tradisi Sourdough yang Berkembang Secara Regional
Memasuki abad pertengahan, pembuatan roti sourdough berkembang menjadi tradisi regional. Banyak keluarga memiliki starter mereka sendiri yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Faktor lingkungan seperti iklim, jenis biji-bijian lokal, hingga kualitas air sangat memengaruhi rasa dan tekstur roti. Di Eropa Utara, roti sourdough berbahan gandum hitam yang padat menjadi favorit, sementara wilayah Eropa Selatan lebih didominasi roti berbahan dasar gandum.
Beragam variasi inilah yang kemudian menjadi cikal bakal gaya roti artisan yang masih dinikmati hingga kini.
Perjalanan Sourdough ke Wilayah Perbatasan
Tradisi membawa starter sourdough turut mengikuti perpindahan manusia ke wilayah baru. Saat demam emas California dan Klondike pada abad ke-19, roti sourdough menjadi makanan penting bagi para penambang.
Di tengah keterbatasan bahan pangan dan ketiadaan ragi komersial, starter sourdough yang terawat mampu menghasilkan roti bergizi. Bahkan, istilah “sourdough” kemudian digunakan sebagai julukan bagi para penambang berpengalaman di Alaska dan Kanada Utara.
Dari Terpinggirkan hingga Bangkit Kembali
Popularitas sourdough sempat meredup ketika ragi komersial mulai diproduksi massal pada awal abad ke-20. Proses pembuatan roti menjadi lebih cepat, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan industri pangan.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, roti sourdough kembali mengalami kebangkitan. Banyak pembuat roti rumahan dan profesional mulai menghargai fermentasi alami karena menghasilkan rasa yang kompleks, tekstur khas, serta keterhubungan dengan tradisi lama.
Minat terhadap sourdough semakin meningkat selama pandemi Covid-19, ketika banyak orang mencoba memanggang roti sendiri di rumah sebagai bentuk aktivitas sekaligus pelarian dari rutinitas.
Lebih dari Sekadar Tren
Kini, roti sourdough tak lagi sekadar tren kuliner. Starter sourdough dipandang sebagai ekosistem hidup yang dibentuk oleh lingkungan dan perawatan pembuatnya. Setiap roti menjadi representasi pengetahuan, kesabaran, dan teknik fermentasi yang diwariskan selama berabad-abad.
Di tengah dunia yang serba instan, sourdough dan roti artisan mengingatkan bahwa hasil terbaik sering kali lahir dari kesederhanaan dan waktu. (FITRI WULANDARI/CHY)