NUSA AKSARA - Kekurangan tidur juga memengaruhi cara tubuh merespons tekanan sehari-hari. Ketika tubuh kelelahan, hormon stres seperti kortisol cenderung tetap berada pada tingkat tinggi.
Dilansir dari MedicalDaily, kondisi ini membuat sistem saraf berada dalam keadaan siaga lebih lama. Akibatnya, masalah kecil dapat terasa lebih berat dan sulit dikelola secara emosional.
Stres Lebih Mudah Meningkat
Kurang tidur juga menurunkan fleksibilitas kognitif. Otak menjadi lebih sulit menilai situasi secara rasional dan mencari solusi yang tenang terhadap masalah.
American Psychological Association (APA) menjelaskan hubungan tersebut dalam kajiannya. “Inadequate sleep is associated with increased stress levels, emotional dysregulation, and greater vulnerability to anxiety disorders.”
Penelitian ini menunjukkan bahwa kurang tidur dapat memperkuat gejala kecemasan. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bahkan menyerupai gangguan kecemasan klinis.
Dampak Jangka Panjang pada Ketahanan Mental
Dampak kurang tidur dapat terakumulasi secara perlahan. Kehilangan satu hingga dua jam tidur setiap malam dalam jangka panjang dapat mengganggu kemampuan mengelola emosi.
Ketika siklus tidur restoratif terus terganggu, toleransi terhadap frustrasi menjadi lebih rendah. Keterampilan menghadapi tekanan juga melemah.
Dalam kondisi yang lebih berat, kurang tidur berkepanjangan dapat menimbulkan gejala yang menyerupai gangguan psikologis ringan. Persepsi dapat menjadi tidak stabil dan emosi lebih sulit dikendalikan.
Namun penelitian juga menunjukkan bahwa pemulihan masih mungkin terjadi. Mengembalikan pola tidur sehat selama 7 hingga 9 jam per malam dapat memperbaiki stabilitas mood dalam beberapa minggu.
Kebiasaan yang Memperburuk Kurang Tidur
Sejumlah kebiasaan sehari-hari sering tanpa disadari memperburuk kualitas tidur. Paparan layar pada malam hari, konsumsi kafein berlebihan, serta jadwal tidur yang tidak teratur dapat mengganggu ritme sirkadian.
Lingkungan tidur yang bising atau terlalu terang juga dapat menurunkan kualitas istirahat. Kondisi tersebut membuat siklus tidur menjadi terfragmentasi dan mengurangi fase tidur yang penting bagi pemulihan mental.
Dilansir dari MedicalDaily, memperbaiki kebiasaan tidur dapat membantu meningkatkan stabilitas emosi. Jadwal tidur yang konsisten dan rutinitas malam yang tenang dapat memperkuat ketahanan terhadap stres.
Tidur yang cukup juga mendukung kejernihan berpikir serta hubungan sosial yang lebih sehat. Karena itu, menjaga kualitas tidur menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan mental jangka panjang.
(CHY)