NUSA AKSARA - Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) selama ini sering dianggap sebagai gangguan yang hanya terjadi pada anak-anak. Namun data terbaru menunjukkan banyak orang baru menyadari kondisi tersebut ketika sudah dewasa.
Dilansir dari MedicalDaily, diperkirakan sekitar 15,5 juta orang dewasa di Amerika Serikat saat ini memiliki diagnosis ADHD. Menariknya, sekitar 55,9 persen diagnosis justru terjadi ketika seseorang sudah memasuki usia dewasa.
Temuan ini menunjukkan adanya celah besar dalam proses deteksi gangguan perhatian pada orang dewasa. Banyak individu hidup bertahun-tahun dengan kesulitan konsentrasi tanpa memahami penyebabnya.
Sebagian dari mereka bahkan menganggap kesulitan tersebut sebagai kegagalan pribadi. Padahal kondisi tersebut berkaitan dengan perbedaan cara kerja sistem saraf, bukan sekadar masalah disiplin atau karakter.
Gejala ADHD Dewasa Sering Berbeda dari Anak
Salah satu alasan mengapa ADHD pada orang dewasa sulit dikenali adalah karena gejalanya tidak selalu terlihat seperti pada anak-anak. Gangguan ini tidak hilang ketika seseorang bertambah usia, tetapi bentuknya berubah.
Dilansir dari MedicalDaily, anak dengan ADHD hiperaktif biasanya menunjukkan perilaku yang sangat aktif secara fisik. Mereka dapat tampak sulit duduk diam atau mudah terdistraksi di lingkungan sekolah.
Pada orang dewasa, kondisi tersebut sering berubah menjadi kegelisahan internal. Banyak orang menggambarkannya sebagai pikiran yang terus bergerak, sulit menghentikan aliran pikiran, atau merasa seperti memiliki “mesin internal yang tidak pernah berhenti”.
Perubahan bentuk gejala ini membuat ADHD dewasa lebih sulit dikenali oleh lingkungan sekitar. Banyak orang tampak tenang secara fisik, tetapi sebenarnya mengalami aktivitas mental yang sangat intens.
Lingkungan Terstruktur Sering Menyembunyikan Gejala
Gejala ADHD sering tidak terlihat jelas selama masa kanak-kanak karena adanya struktur kehidupan yang lebih teratur. Jadwal sekolah yang tetap, pengawasan orang tua, serta aturan kelas dapat membantu mengendalikan sebagian gejala.
Masalah biasanya mulai terlihat ketika seseorang memasuki masa kuliah atau dunia kerja. Pada tahap ini, individu harus mengelola waktu, tugas, dan tanggung jawab secara mandiri.
Dilansir dari MedicalDaily, perubahan lingkungan tersebut membuat gejala ADHD lebih mudah muncul. Ketika struktur eksternal berkurang, kesulitan mengatur fokus dan organisasi menjadi lebih jelas terasa.
Gejala Hiperaktif pada Dewasa Lebih Halus
Pada orang dewasa, hiperaktivitas tidak selalu muncul dalam bentuk gerakan fisik yang mencolok. Banyak individu hanya menunjukkan tanda-tanda kecil seperti mengetuk kaki, memainkan benda di tangan, atau sulit merasa benar-benar rileks.
Beberapa orang menggambarkan sensasi tersebut sebagai perasaan “bergetar dari dalam”. Kondisi ini tidak selalu terlihat oleh orang lain, sehingga sering tidak dianggap sebagai tanda gangguan perhatian.
Hal inilah yang membuat diagnosis ADHD pada orang dewasa sering terlambat dilakukan. Tanpa gejala yang jelas terlihat, banyak individu tidak mendapatkan evaluasi medis hingga bertahun-tahun kemudian.
Pentingnya Deteksi yang Lebih Baik
Kesadaran mengenai ADHD pada orang dewasa mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Para peneliti menilai bahwa pemahaman yang lebih baik tentang bentuk gejala pada usia dewasa dapat membantu proses diagnosis lebih dini.
Dilansir dari MedicalDaily, banyak tenaga kesehatan sebelumnya lebih fokus pada bentuk ADHD yang terlihat pada anak-anak. Kurangnya pelatihan untuk mengenali pola gejala pada orang dewasa turut berkontribusi pada keterlambatan diagnosis.
Dengan peningkatan pengetahuan tentang kondisi ini, diharapkan lebih banyak orang dapat memahami sumber kesulitan yang mereka alami. Diagnosis yang tepat juga memungkinkan individu mendapatkan dukungan dan strategi pengelolaan yang lebih efektif.
Kesadaran ini menjadi penting karena ADHD bukan sekadar masalah konsentrasi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kehidupan akademik, pekerjaan, hingga hubungan sosial jika tidak dikenali dengan baik.
(CHY)