NUSAAKSARA.COM — Proyek pengolahan nikel High Pressure Acid Leach di Sambalagi, Morowali, ditargetkan menghasilkan sekitar 90.000 ton kandungan nikel per tahun melalui tiga unit autoclave. Fasilitas yang dibangun PT Vale Indonesia bersama GEM Co Ltd dan EcoPro itu dijadwalkan selesai akhir 2026 dan mulai berproduksi pada kuartal pertama 2027.
Kolaborasi lintas negara antara PT Vale Indonesia Tbk, GEM Co Ltd asal China, dan EcoPro dari Korea Selatan menempatkan sumber daya nikel Indonesia, teknologi pengolahan, serta jaringan industri material baterai dalam satu kawasan industri di Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek ini dirancang mengolah bijih nikel laterit kadar rendah yang selama ini sulit diproses secara ekonomis.
Bijih Kadar Rendah Kini Bisa Diolah
Chairman GEM Co Ltd Xu Kaihua menyatakan teknologi HPAL yang dipakai di Sambalagi merupakan generasi terbaru. Rancangan itu mengejar kapasitas besar, tingkat recovery tinggi, sekaligus efisiensi energi dan aspek lingkungan.
"Teknologi ini adalah generasi terbaru. Kapasitasnya besar, recovery-nya tinggi, dan kami juga memperhatikan aspek lingkungan serta efisiensi energi," kata Xu.
Perubahan paling menonjol terletak pada kadar bijih yang dapat diproses. Sebelumnya, bahan baku yang digunakan berada di kisaran 1,0 hingga 1,1 persen. Fasilitas Sambalagi ditargetkan mampu mengolah bijih dengan kadar sekitar 0,6 hingga 0,4 persen.
"Kami sebelumnya menggunakan bijih dengan kadar sekitar 1,0 sampai 1,1 persen. Sekarang kami ingin menggunakan bijih dengan kadar 0,6 sampai 0,4 persen," ujarnya.
Kemampuan itu memperluas sumber daya nikel yang berpotensi dimanfaatkan untuk industri hilir. Xu menilai teknologi tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap bijih berkadar lebih tinggi dan memperpanjang masa pemanfaatan cadangan nikel Indonesia.
"Dengan teknologi ini, tekanan terhadap penambangan bisa dikurangi dan pemanfaatan sumber daya nikel Indonesia bisa lebih panjang," katanya.
Kapasitas Tiga Autoclave dan Serapan Tenaga Kerja
Satu unit autoclave di fasilitas tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 30.000 ton kandungan nikel per tahun. Dengan tiga unit, kapasitas keseluruhan proyek ditargetkan mencapai sekitar 90.000 ton kandungan nikel per tahun.
"Untuk satu autoclave, kapasitasnya sekitar 30.000 ton nikel metal per tahun. Jadi kalau tiga unit, targetnya sekitar 90.000 ton," kata Xu.
Skala produksi itu menunjukkan Sambalagi tidak dibangun sekadar untuk menguji teknologi. Fasilitas ini diproyeksikan menjadi pabrik berskala besar yang terhubung dengan rantai industri nikel dan material baterai.
Pembangunan fasilitas ditargetkan rampung pada akhir 2026. Jika sesuai rencana, kegiatan produksi dimulai pada kuartal pertama 2027. Proyek ini juga membidik penyerapan sekitar 5.000 pekerja dalam kegiatan proyek dan operasional terkait.
"Target kami sekitar 5.000 pekerja," ujarnya.
Klaim Rendah Karbon dan Dimensi Lintas Negara
Narasi hijau proyek ini tidak hanya muncul dari teknologi HPAL. PT Vale menyebut Proyek Morowali yang mencakup tambang dan fasilitas pengolahan di Sambalagi dirancang untuk mencapai net-zero emissions. Fasilitas HPAL tersebut juga disebut sebagai pabrik pengolahan nikel berkarbon rendah.
Xu menyatakan kolaborasi Indonesia, China, dan Korea Selatan di Sambalagi diarahkan menjadi model investasi hijau. Menurut dia, manfaatnya harus dirasakan industri maupun masyarakat.
"Kami ingin membangun model investasi hijau antara Indonesia, China, dan Korea yang bisa memberikan manfaat bagi industri dan masyarakat," kata Xu.
Proyek ini berjalan ketika arah industri nikel Indonesia mulai bergeser. Setelah bertahun-tahun hilirisasi didorong lewat pembangunan smelter, tantangan berikutnya adalah mengolah sebanyak mungkin sumber daya mineral dengan nilai tambah lebih tinggi, termasuk bijih kadar rendah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Teknologi hidrometalurgi HPAL mengekstraksi nikel dan kobalt dari bijih laterit untuk menghasilkan produk antara yang masuk ke rantai pasok material baterai. Di Sambalagi, proses itu diterapkan dalam skala industri besar, dengan target operasional yang sudah menunggu penyelesaian konstruksi pada akhir 2026.