Film Tenzing Buka Zurich Film Festival, Angkat Kisah Pendaki Sherpa Pertama

Kamis, 24 September 2026 | 19:01:01 WIB
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Film "Tenzing" garapan sutradara Jennifer Peedom resmi membuka Zurich Film Festival dan menghadirkan kembali kisah Tenzing Norgay, pendaki Sherpa yang mencapai puncak Everest bersama Edmund Hillary pada 1953. Diproduksi sebagai Apple Original, film ini menempatkan Tenzing sebagai tokoh utama dari perjalanannya sendiri, bukan sekadar pendamping dalam kisah heroik pendaki Barat. Genden Phuntsok didapuk memerankan Tenzing, beradu akting dengan Tom Hiddleston sebagai Hillary.

Jennifer Peedom menggarap "Tenzing" dengan ambisi yang jelas: mengembalikan subjektivitas Tenzing Norgay dalam narasi pendakian Everest 1953. Selama puluhan tahun, kisah pendakian itu sering diringkas menjadi satu kalimat sederhana — Hillary menaklukkan Everest, dibantu seorang Sherpa.

Peedom menolak penyederhanaan itu. Menurutnya, Tenzing memiliki pengalaman di Everest lebih banyak dibanding siapa pun dalam ekspedisi 1953, termasuk Hillary. Ia bukan hanya membantu orang lain meraih mimpi, tetapi juga mengejar mimpinya sendiri.

Siapa Tenzing Norgay di Mata Sutradara

"The ambition was to restore that subjectivity and allow him to be the protagonist of his own life, not a supporting character in someone else's heroic story," ujar Peedom, dikutip dari Variety.

Ia menegaskan bahwa penggambaran ini tidak berarti mengecilkan peran Hillary. Justru, menurut Peedom, kemitraan keduanya menjadi jauh lebih menarik ketika penonton memahami kualitas masing-masing pria dan apa yang mereka bawa ke tali yang sama.

Genden Phuntsok dipercaya memerankan Tenzing. Peedom menyebut aktor itu memiliki kedalaman emosi, kekuatan fisik, kehangatan, dan humor, sekaligus wibawa yang tenang. Tenzing bukan karakter yang mengumumkan semua perasaannya, sehingga dibutuhkan aktor yang mampu membawa banyak hal secara internal.

"He has this extraordinary, contained force," kata Peedom tentang Phuntsok. Aktor tersebut tumbuh di Dataran Tinggi Tibet, di ketinggian, dalam lanskap dan budaya yang punya koneksi nyata dengan dunia Tenzing.

Tom Hiddleston hingga Willem Dafoe di Jajaran Pemain

Selain Phuntsok, film ini menghadirkan Tom Hiddleston sebagai Edmund Hillary, Thinley Lhamo, Caitríona Balfe, dan Willem Dafoe yang berperan sebagai Kolonel John Hunt. Peedom mengaku senang melihat aktor dengan latar sejarah dan metode akting berbeda bertemu sebagai setara di dalam dunia film.

Perjalanan Tenzing sebelum Everest menjadi bagian yang paling menyentuh bagi Peedom. Ia pertama kali mencoba bergabung dengan ekspedisi pada 1933, dan baru mendapat kesempatan pertama pada 1935, awalnya sebagai porter. Selama dua dekade berikutnya, ia membangun pengalaman dan reputasinya hingga pada 1953 menjadi salah satu pendaki Everest paling berpengalaman di dunia.

"He wasn't a man who was given an opportunity and then proved himself on the mountain. He had to fight for the opportunity in the first place," ujarnya.

Mengapa Kisah Sherpa Selama Ini Terpinggirkan

Peedom bukan nama baru dalam isu ini. Ia sebelumnya membuat film pendek "The Sherpas' Burden" dan dokumenter "Sherpa". Baginya, "Tenzing" adalah bab lain dari eksplorasi yang sama: apa yang terjadi ketika sosok yang selama ini berada di tepi bingkai dipindahkan ke pusat cerita.

Ia menyoroti ketimpangan yang mencolok. Para Sherpa mengerjakan sebagian besar pekerjaan esensial — membawa beban, memasang tali, membangun kamp, dan berulang kali melintasi medan paling berbahaya. Ketika terjadi sesuatu yang salah, merekalah yang sering naik kembali untuk menyelamatkan orang lain.

"These were elite mountaineers, often with multiple Everest summits, doing some of the most dangerous and skilled work. Yet, outside of Nepal, almost nobody knew their names," tegas Peedom.

Dari Dokumenter ke Drama

Meski dikenal lewat karya dokumenter, Peedom merasa kisah Tenzing menuntut pendekatan berbeda. Sebagian besar perjalanan Tenzing bersifat internal — soal iman, keluarga, ambisi, dan identitas, serta momen-momen privat yang tidak pernah terekam kamera.

Dokumenter, menurutnya, bisa menceritakan apa yang terjadi. Namun drama memungkinkan penonton lebih dekat merasakan bagaimana pengalaman itu terasa. Peedom tidak ingin menggambarkan Tenzing dari luar; ia ingin penonton mengalami ekspedisi dari sudut pandang Tenzing.

Dimensi spiritual juga menjadi bagian penting. Tenzing adalah seorang Buddhis, dan gunung itu punya makna spiritual baginya. Sebagai anak laki-laki, ia menggembalakan yak milik ayahnya di dataran tinggi Tibet di bawah Everest. Peedom menyebut perjalanan itu, dalam beberapa hal, sebagai perjalanan pulang.

Saat akhirnya mencapai puncak, Tenzing berdoa dan meninggalkan persembahan. Dalam banyak kisah pendakian Barat, gunung diposisikan sebagai lawan yang harus dikalahkan. Bagi Tenzing, hubungan itu jauh lebih kompleks — ada ambisi, tetapi juga rasa hormat.

Identitas yang Dipolitisasi Setelah Everest

Film ini juga menyentuh pertanyaan rumit soal identitas. Peedom tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan bahwa Tenzing tidak pernah merasa memiliki tempat. Menurutnya, Tenzing sangat lekat dengan keluarga, imannya, dan dunia Himalaya tempat ia berasal.

Namun setelah Everest, identitasnya menjadi terpolitisasi, dan berbagai negara ingin mengklaimnya. Film ini berakhir sebelum babak itu dimulai, meninggalkan Tenzing saat ia turun kembali dari gunung.

Bagi industri film, "Tenzing" menambah deretan produksi yang berusaha mengoreksi narasi sejarah pendakian gunung tertinggi dunia, dari sekadar catatan kemenangan pendaki Barat menjadi kisah manusia yang lebih berlapis.

Terkini