Jenazah Guruh Soekarnoputra Tiba di Rumah Duka Kebayoran Baru

Jenazah Guruh Soekarnoputra Tiba di Rumah Duka Kebayoran Baru
Jenazah Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra tiba di rumah duka Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (26/9) pukul 07.35 WIB.

NUSAAKSARA.COM — Jenazah Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra tiba di rumah duka Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (26/9) pukul 07.35 WIB. Putra bungsu Presiden pertama Soekarno itu meninggal dunia pada usia 73 tahun setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta.

Jenazah Guruh dibawa menggunakan ambulans berlogo PDI Perjuangan. Kedatangan jenazah disambut keluarga dan kerabat yang telah menunggu di kediaman tersebut sejak pagi.

Kabar meninggalnya Guruh disampaikan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Menurut Hasto, Guruh mengembuskan napas terakhir setelah dirawat intensif di rumah sakit.

"Inna lilahi wa inna ilaihi raji'un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak MOHAMMAD GURUH IRIANTO SUKARNOPUTRA BIN SUKARNO pada usia 73 tahun," kata Hasto.

Anak Bungsu Soekarno dari Fatmawati

Guruh lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953. Ia merupakan anak bungsu Soekarno dari pernikahannya dengan Fatmawati, dan adik dari Presiden kelima Megawati Soekarnoputri.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Perguruan Cikini, lalu berlanjut ke SMA Negeri 25 Jakarta. Ia sempat menempuh studi Arkeologi di University of Amsterdam selama tiga tahun hingga 1974.

Guruh kemudian meraih gelar Sarjana Administrasi Publik dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia pada 2005-2008. Gelar Magister Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia diraihnya pada 2010.

Swara Mahardika dan Lagu-Lagu Legendaris

Nama Guruh lekat dengan dunia seni, khususnya tari dan musik. Ia mendirikan grup kesenian Swara Mahardika serta GSP Production, dua wadah yang melahirkan banyak pertunjukan seni sepanjang dekade 1980-an hingga 1990-an.

Bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye, Guruh membentuk grup Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan. Kolaborasi itu menghasilkan karya yang dianggap meletakkan dasar perpaduan musik tradisional dan pop modern Indonesia.

Sejumlah lagu ciptaannya bertahan lintas generasi, antara lain Kala Sang Surya Tenggelam, Melati Suci, Zamrud Khatulistiwa, Lenggang Puspita, Mahadaya Cinta, serta Galih dan Ratna.

Karier Politik dan Kursi DPR

Di dunia politik, Guruh bergabung dengan PDI pada 1982. Setelah partai itu bertransformasi menjadi PDI Perjuangan pada 1999, ia tetap berada di barisan yang sama hingga akhir hayatnya.

Ia pernah duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur. Masa jabatannya di senayan berlangsung panjang, mencakup periode 1999 hingga 2024.

Dari pernikahannya dengan Guseynova Sabina Padmavati pada 2002, Guruh dikaruniai seorang anak. Pasangan itu bercerai pada 2009.

Prosesi Selanjutnya

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai lokasi dan jadwal pemakaman. Keluarga masih menerima pelayat di rumah duka Jalan Sriwijaya Raya.

Sejumlah tokoh politik dan kerabat disebut telah mengirimkan ucapan duka cita. PDI Perjuangan menyatakan akan menyampaikan informasi lebih lanjut mengenai prosesi penghormatan terakhir untuk Guruh.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index