NUSAAKSARA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang mengerahkan pasukan AS untuk bergabung dengan Arab Saudi melawan kelompok Houthi Yaman. Perubahan sikap itu muncul setelah serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang menewaskan tiga orang dan menghancurkan tiga pesawat. Sebelumnya, Trump mengabaikan permintaan Putra Mahkota Mohammed bin Salman agar AS terlibat langsung dalam perang melawan kelompok yang didukung Iran tersebut.
Serangan tersebut merupakan yang kedua menargetkan bandara yang sama. Seorang warga Sudan termasuk di antara korban tewas dalam insiden itu.
"Mungkin, kita akan mempertimbangkannya. Kami baru saja mengetahui tentang serangan baru-baru ini. Kita akan membuat keputusan, bergerak sangat cepat," kata Trump, seperti dikutip dari Anadolu, Minggu (11/10/2026).
Serangan Lanjutan Lumpuhkan Operasional Bandara
Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) menyatakan Bandara King Khalid kembali diserang pada Sabtu sore waktu setempat. Serangan lanjutan itu melukai sejumlah orang.
Bandara Internasional King Khalid menghentikan sementara operasional penerbangan pada Sabtu (10/10/2026) menyusul insiden tersebut. Keputusan itu diambil untuk mengamankan kawasan bandara setelah dua serangan berturut-turut dalam beberapa hari.
Perubahan Sikap Trump dan Permintaan MBS
Pernyataan Trump menandai pergeseran posisi Washington. Sebelumnya, Trump mengabaikan permintaan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) untuk terlibat langsung dalam perang melawan Houthi.
Kelompok Houthi diketahui didukung oleh Iran, menjadikan konflik ini bagian dari ketegangan yang lebih luas di kawasan. Keterlibatan AS berpotensi memperluas cakupan operasi militer di Yaman dan sekitarnya.
Trump tidak merinci bentuk dukungan yang mungkin diberikan, apakah berupa operasi tempur langsung, bantuan logistik, atau dukungan udara. Ia hanya menegaskan bahwa keputusan akan diambil dalam waktu dekat.
Dampak pada Keamanan Penerbangan Kawasan
Serangan berulang terhadap Bandara King Khalid menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan penerbangan sipil di kawasan. Bandara itu melayani rute internasional dan menjadi salah satu pintu masuk utama ke Arab Saudi.
GACA belum merilis pernyataan resmi soal total kerugian material maupun jumlah korban secara keseluruhan. Otoritas juga belum mengumumkan kapan operasional bandara akan kembali normal.
Sejumlah warga asing dilaporkan menjadi korban dalam serangan-serangan tersebut. Identitas dan kewarganegaraan para korban belum diungkap secara lengkap oleh otoritas Saudi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Arab Saudi maupun kelompok Houthi terkait perkembangan terbaru. Pemerintah Indonesia juga belum merilis pernyataan terkait dampak konflik ini bagi warga negara Indonesia di kawasan.