NUSAAKSARA.COM — Pasukan pro-pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi menyatakan telah mengamankan Selat Bab al-Mandab di ujung selatan Laut Merah, menandai pembukaan operasi militer besar melawan gerakan Houthi yang didukung Iran. Klaim itu muncul bersamaan dengan laporan simpang siur soal nasib Kota Mokha, sementara Houthi membalas dengan serangan ke Bandara Internasional Riyadh dan fasilitas minyak Aramco.
Pernyataan resmi militer Yaman menyebut tiga kekuatan utama dikerahkan dalam operasi tersebut, yakni National Shield, Giants Brigades, dan Tihama Resistance. Menurut klaim itu, Kota Mokha di pesisir Laut Merah berhasil direbut pada Senin sore dengan dukungan serangan udara Arab Saudi.
Namun sejumlah sumber pemerintah dan militer Yaman yang tidak disebut namanya memberi gambaran berbeda kepada kantor berita Reuters dan AFP. Mereka menyatakan pasukan baru mencapai pinggiran kota, bukan menguasainya.
Klaim Mokha: Dikuasai atau Baru Dikepung
Empat sumber pemerintah Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa pasukan baru tiba di pinggiran Mokha pada Senin malam, dan pejuang Houthi dilaporkan mulai mundur. Sumber militer pemerintah yang berbicara kepada AFP menolak mengonfirmasi perebutan kota, tetapi menyebut pasukan telah menguasai lapangan udara militer Dhubab dan memutus jalan yang menghubungkan Distrik Dhubab dengan kawasan Bab al-Mandab.
Sebelumnya, militer Yaman juga mengklaim telah merebut Bandara Dhubab yang berjarak sekitar 45 kilometer di selatan, dan mengepung pejuang Houthi di kota terdekat. Media yang dikelola Houthi membantah laporan kemajuan pasukan pemerintah di Dhubab.
Front Baru dan Dukungan Udara Sepanjang Hari
Pemerintah Yaman menyatakan operasi juga dimulai di sejumlah front lain, termasuk ibu kota Sanaa yang jatuh ke tangan Houthi pada awal perang saudara 12 tahun lalu. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengklaim jet tempurnya memberikan dukungan udara "sepanjang hari" dan telah menghancurkan 324 target bernilai tinggi sejak operasi dimulai.
Turki dan Pakistan, sekutu Arab Saudi, menggelar pertemuan darurat di Riyadh dan sepakat mengerahkan kekuatan militer ke Arab Saudi dengan merujuk pada Pakta Pertahanan Mekah. Kesepakatan itu tertuang dalam pernyataan bersama yang dibagikan Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Serangan Balasan Houthi ke Riyadh dan Aramco
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, dalam pernyataan di Telegram mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas minyak milik Saudi Aramco di Riyadh dan kawasan Khurais. Houthi juga mengklaim menyerang Bandara Internasional Riyadh dan Bandara Abha sebagai balasan atas puluhan serangan Saudi ke wilayah mereka.
BBC Verify melaporkan citra satelit menunjukkan asap tebal dan gelap membubung dari lokasi serangan di Kilang Riyadh Aramco pada Sabtu, serta dari Fasilitas Pemrosesan Sentral Khurais pada citra Minggu.
Stasiun televisi Al Masirah yang dikelola Houthi melaporkan serangan udara Saudi menewaskan seorang pelajar perempuan dan seorang perempuan di Distrik Sanhan dan Saawan, Sanaa. Juru bicara Houthi, Mohammed Abdul Salam, menuduh Arab Saudi melakukan "puluhan pembantaian" dan harus menanggung segala konsekuensinya.
Peringatan Maskapai dan Seruan PBB
Pusat Koordinasi Operasi Kemanusiaan yang dikelola Houthi memperingatkan maskapai sipil bahwa wilayah udara Arab Saudi, kecuali langit di atas kota suci Mekah dan Madinah, tidak lagi aman karena telah menjadi "teater operasi".
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam "serangan lintas batas Houthi yang terus berlanjut" terhadap Arab Saudi dan menyatakan sangat prihatin atas eskalasi tajam pertempuran, dalam pernyataan kepada AFP.
Operasi Fajar Yaman dan Akar Konflik
Pada Minggu, kepala Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang diakui internasional mengumumkan dimulainya operasi bernama Operasi Fajar Yaman, yang bertujuan merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai Houthi. Rashad al-Alimi menegaskan semua peluang de-eskalasi telah habis dan menyerukan seluruh pasukan menjalankan misi masing-masing "hingga negara terbebas dari cengkeraman milisi teroris Houthi".
Seruan itu muncul setelah Houthi dilaporkan memutus jalan pegunungan dekat Kota Taiz di barat daya, membuat pasukan pemerintah dan warga di sana terkepung.
Yaman dilanda perang saudara sejak 2014, ketika Houthi menggulingkan pemerintah dari Sanaa. Konflik meningkat pada 2015 setelah koalisi negara Arab pimpinan Saudi melakukan intervensi untuk memulihkan kekuasaan pemerintah. Gencatan senjata informal selama empat tahun mulai runtuh pada Juli, ketika Houthi mengumumkan "embargo maritim" terhadap Arab Saudi dan memulai serangan rudal serta drone ke bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker di Laut Merah.
Houthi menyebut serangan itu sebagai balasan atas blokade Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah mereka, serta serangan udara ke Bandara Sanaa yang mereka tuduhkan kepada kerajaan. Bulan lalu, Houthi melancarkan serangan mendadak di sepanjang pesisir Laut Merah barat daya Yaman dan dengan cepat mengusir pasukan pro-pemerintah dari kawasan yang menghadap Selat Bab al-Mandab.