Pramono Sebut Kualitas Udara Jakarta Memburuk 2-3 Hari, 367 Faskes Siaga

Jumat, 16 Oktober 2026 | 13:01:08 WIB
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan kualitas udara di ibu kota memburuk dalam dua hingga tiga hari terakhir berdasarkan pantauan ratusan alat pemantau emisi milik Pemprov DKI. Ia memerintahkan 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 pembantu puskesmas bersiaga menangani warga dengan gangguan pernapasan. Pramono mengaku sempat menahan informasi ini sejak tiga hari lalu karena khawatir memicu polemik soal penyebabnya.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa kondisi udara di Jakarta mengalami penurunan dalam dua hingga tiga hari terakhir. Pernyataan itu disampaikannya di Jakarta Utara, Jumat (16/10), dengan menegaskan bahwa data yang ia pegang berasal dari jaringan pemantau emisi milik Pemerintah Provinsi DKI, bukan semata dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

"Memang sekarang ini dalam 2-3 hari ini kondisi asap kita, kondisi udara kita mengalami kondisi yang memburuk," ujar Pramono.

Menurut Pramono, Jakarta memiliki ratusan alat pemantau emisi yang tersebar di sejumlah titik. Jaringan itu, katanya, sudah cukup memberi gambaran awal sebelum BMKG merilis data resmi.

"Jakarta mempunyai pemantau untuk emisi itu jumlahnya ratusan. Sebenarnya tanpa dari BMKG aja datanya sudah ada. Penegasannya bahwa ini cuacanya memburuk," ujarnya.

Ratusan Fasilitas Kesehatan Diminta Siaga

Pramono menyatakan telah memerintahkan jajaran Dinas Kesehatan DKI, terutama rumah sakit dan puskesmas, untuk bersiap menerima lonjakan pasien dengan keluhan pernapasan. Persiapan itu mencakup pemberian bantuan pengobatan bagi warga yang terdampak.

"Saya sudah memerintahkan kepada jajaran Kadinkes, terutama rumah sakit, dan juga puskesmas, pembantu puskesmas, untuk mereka bersiap diri," kata Pramono.

"Bersiap diri memberikan bantuan sepenuhnya bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan ataupun hal-hal yang lain yang berkaitan dengan kondisi udara yang seperti ini," jelasnya.

Total ada 367 fasilitas kesehatan yang diminta bersiaga: 31 rumah sakit, 44 puskesmas, dan 292 pembantu puskesmas. Seluruhnya dilaporkan sudah siap menangani dampak buruk kualitas udara.

Alasan Pramono Tunda Umumkan Kondisi Udara

Pramono mengaku sempat menahan diri menyampaikan informasi ini ke publik sejak beberapa hari sebelumnya. Alasannya, ia tidak ingin isu kualitas udara memburuk dibelokkan menjadi perdebatan soal penyebab, terutama di tengah kabar asap karhutla di sejumlah daerah.

"Dari tiga hari yang lalu saya ingin menyampaikan kepada publik, tetapi saya tidak ingin kemudian ini malah menjadi pro-kontra, apakah ini disebabkan oleh apa?" ungkap Pramono.

Ia menegaskan tidak menyalahkan pihak mana pun atas kondisi udara Jakarta saat ini. Fokusnya, kata Pramono, adalah penanganan dampak kesehatan warga.

BMKG: Asap Karhutla Belum Terpantau ke Jakarta

Kekhawatiran soal udara Jakarta sebelumnya mencuat di media sosial Threads. Sejumlah pengguna mempertanyakan apakah asap karhutla yang melanda beberapa wilayah Indonesia sudah mencapai ibu kota.

"Ngerasa enggak kok akhir-akhir ini udara Jakarta polusinya makin parah, apa ini juga dampak karhutla?" tulis seorang netizen di Threads, Rabu (14/10).

"Asap karhutla sepertinya turun ke Jakarta ya hari ini atau polusi-nya memang lagi meningkat? Agak mendung (vision berkurang) tapi masih merasa gerah juga," sambung netizen lain.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto menyatakan wilayah Jakarta dan Jabodetabek tidak masuk dalam area sebaran asap karhutla. Kondisi itu ditandai garis putus-putus berwarna merah muda pada peta BMKG.

"Namun, BMKG menegaskan bahwa asap tersebut belum terpantau mengarah ke Jakarta," ujar Guswanto, Rabu (14/10).

Dengan dua keterangan berbeda soal sumber polusi, warga Jakarta untuk sementara menghadapi kenyataan bahwa udara memburuk tanpa penyebab tunggal yang pasti. Pemprov DKI memilih jalur mitigasi kesehatan ketimbang debat penyebab, sementara BMKG menepis dugaan asap karhutla sebagai pemicu di ibu kota.

Terkini