NUSAAKSARA.COM — Dinas Kebudayaan DKI Jakarta berkomitmen membenahi ekosistem seni tari setelah menerima keluhan soal krisis ruang latihan, minimnya dana operasi sanggar, dan regenerasi pegiat. Masukan itu disampaikan puluhan pegiat tari dalam forum diskusi kelompok terpumpun di Taman Ismail Marzuki. Disbud menyatakan kesenian di luar tradisi tetap akan didukung, termasuk lewat peningkatan fasilitas.
Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta Arista Nurbaya menyatakan pihaknya menampung seluruh aspirasi pegiat seni tari yang mengeluh soal keterbatasan ruang berproses. Ia menyebut masalah dasar itu menjadi perhatian serius pemerintah Jakarta.
Pernyataan Arista disampaikan dalam forum diskusi kelompok terpumpun yang digelar Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta bersama Tim Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) di Taman Ismail Marzuki. Forum itu menjadi ruang bagi seniman tari untuk membuka persoalan yang selama ini jarang terdengar ke permukaan.
Fokus Disbud Masih Kesenian Tradisi
Arista mengakui Disbud DKI saat ini masih memusatkan perhatian pada kesenian tradisi. Meski begitu, ia menegaskan kesenian lain di luar tradisi tetap harus diperhatikan dan didukung.
"Saat ini, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta masih fokus pada kesenian tradisi, namun kami sadar di luar kesenian tradisi, kesenian lain tetap dan masih harus terus diperhatikan dan didukung. Tidak hanya itu, tetapi juga pemberdayaan dan upgrade fasilitas untuk para pegiat seni tari Jakarta dan sekitarnya," ujar Arista.
Janji pembenahan fasilitas itu muncul setelah sejumlah perwakilan komunitas tari memaparkan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Keluhan utama berkisar pada tidak adanya ruang latihan yang layak, dana operasi sanggar yang minim, hingga sulitnya kaderisasi penari muda.
Seniman Tari Minta Sanggar Khusus, Bukan Sekadar Ruang
Perwakilan Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) Agustina Rochyanti menyoroti kebijakan penyediaan fasilitas publik yang dinilainya kerap menyamaratakan definisi ruang untuk semua cabang seni. Menurutnya, penari membutuhkan spesifikasi ruang tersendiri.
"Apakah memang secara umum para seniman tari hanya membutuhkan 'ruang' sehingga sanggar yang dimaksud boleh berupa Sanggar Seni Pertunjukan yang dapat digunakan oleh semua pegiat seni? Atau kita memang butuh ruang secara khusus, yaitu Sanggar Tari? Ini penting karena dua ruang tersebut merupakan hal yang berbeda," jelas Agustina.
Perbedaan itu bukan soal istilah semata. Lantai, dimensi, hingga akustik sebuah sanggar tari memiliki standar berbeda dari ruang serbaguna yang dipakai bersama cabang seni lain.
Ruang Berproses dan Panggung Pementasan Sama Pentingnya
Perwakilan kelompok tari Padnecwara, Genoveva Noirury Nostalgia, menekankan pentingnya kepastian fasilitas untuk dua tahapan vital dalam berkesenian, yakni ruang berproses (exercise) dan panggung pementasan (performance). Keduanya, menurut dia, tidak bisa dipisahkan karena menentukan kualitas karya yang dihasilkan.
Tim Peneliti BIMA memaparkan temuan serupa dari sisi ekonomi sanggar. Banyak aktivitas sanggar terpaksa berjalan dengan modal nekat tanpa ditopang struktur ekonomi yang sehat. Kondisi itu membuat sanggar sulit berkembang dan bergantung pada semangat para pengurusnya.
Arsip Digital Jadi Hambatan Jangkau Sponsor dan Audiens Muda
Temuan BIMA juga menyoroti minimnya arsip dokumentasi visual dan portofolio digital di kalangan sanggar tari. Ketiadaan rekam jejak itu memicu kesenjangan yang menyulitkan sanggar menarik sponsor dan menjangkau audiens dari Generasi Z dan Alpha.
Di era digital, portofolio visual menjadi pintu masuk bagi calon pendukung dan penonton baru. Tanpa dokumentasi yang rapi, karya tari sulit dipromosikan ke luar lingkaran komunitasnya sendiri.
"Kami berharap apa pun kebijakan yang nanti akan diputuskan, apakah itu regulasi subsidi ruang latihan ataukah kemudahan akses panggung pementasan, itu adalah keputusan nyata yang memberikan manfaat keberlanjutan bagi ekosistem tari di Jakarta," kata tim peneliti.
Disbud DKI belum merinci bentuk kebijakan yang akan diambil maupun jadwal implementasinya. Arista hanya memastikan pemberdayaan dan peningkatan fasilitas bagi pegiat seni tari Jakarta dan sekitarnya masuk dalam perhatian pihaknya.