Barbara Kopple Rilis Union Town, Trilogi Hak Buruh Tayang di Ji.hlava

Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:01:01 WIB
Sutradara Barbara Kopple menutup trilogi dokumenter hak buruh lewat Union Town yang tayang di Festival Film Dokumenter Ji.hlava.

NUSAAKSARA.COM — Sutradara dokumenter peraih dua Oscar, Barbara Kopple, menutup trilogi perjuangan hak buruh lewat film Union Town yang tayang di Festival Film Dokumenter Ji.hlava. Film ini menyorot pekerja gudang dan kurir AS di UPS, Amazon, serta pengemudi berbasis aplikasi yang menuntut masa depan lebih baik. Sebelumnya, Union Town sudah diputar di Venice dan Toronto.

Barbara Kopple menuntaskan trilogi dokumenter soal perjuangan hak pekerja melalui Union Town. Setelah diputar di Festival Film Venice dan Toronto, film ini melanjutkan perjalanan ke Festival Film Dokumenter Ji.hlava, tempat Kopple berbicara kepada Variety tentang karya terbarunya.

Union Town mengikuti para pekerja pengiriman dan gudang di Amerika Serikat yang dipekerjakan UPS dan Amazon, juga para pengemudi berbasis aplikasi atau deliveristas. Mereka memperjuangkan masa depan yang lebih layak di tengah tekanan kerja yang menuntut fisik.

Trilogi Hak Buruh Barbara Kopple

Kopple bukan nama baru di ranah dokumenter advokasi. Ia meraih dua Academy Awards lewat Harlan County U.S.A. tentang pemogokan penambang batu bara di Kentucky, dan American Dream tentang pemogokan Hormel pada 1985-1986 yang digarap bersama Arthur Cohn.

Union Town melengkapi rangkaian panjang perhatiannya pada kelas pekerja. Kopple menyebut pengalaman mendampingi keluarga penambang dan pekerja pabrik daging selama bertahun-tahun membentuk cara pandangnya sebagai pembuat film.

"Saya rasa saya selalu tertarik pada kisah orang-orang yang berjuang untuk martabat dan keadilan dalam hidup mereka," kata Kopple.

Latar Belakang Union Town

Pandemi menjadi titik balik yang mendorong Kopple mengangkat tema ini. Banyak pekerja pengiriman merasa diperlakukan sebagai pihak yang bisa dibuang begitu saja, padahal mereka mempertaruhkan nyawa demi orang lain.

"Mereka mempertaruhkan hidup mereka untuk orang lain, dan orang-orang tidak memahami itu," ujarnya.

Kopple ingin penonton melihat dan merasakan siapa para pekerja ini, agar tidak lagi diperlakukan sebagai "disposable" atau mudah dibuang. Ia menegaskan bahwa yang ingin disampaikan adalah kisah manusia, bukan sekadar laporan kerja.

Kisah Solidaritas dan Harapan

Salah satu adegan yang menonjol melibatkan Tony Rosario, organisator serikat Teamsters senior, saat bersama anak-anaknya. Ia memperlihatkan seikat ranting besar yang sulit dipatahkan, tetapi satu ranting bisa dipatahkan dengan mudah. Cara itu dipakai untuk mengajarkan solidaritas dan pentingnya bekerja bersama.

Kopple juga merekam sejumlah kemenangan, termasuk kesepakatan DoorDash pada 2025 untuk membayar 17 juta dolar AS guna menyelesaikan klaim bahwa perusahaan memakai tip pelanggan untuk mensubsidi upah pekerja di New York. Ia menilai filmnya justru memberi harapan.

"Ini sebenarnya sangat penuh harapan," kata Kopple.

Reaksi penonton di Venice juga membekas. Saat para pekerja Amazon dihadirkan, penonton berdiri dan memberi sorakan. Momen itu disebut Kopple sebagai pengalaman emosional bagi semua pihak yang terlibat.

Produksi dan Distribusi

Union Town diproduksi Cabin Creek Films dan dijual oleh Autlook Filmsales. Kopple menilai dokumenter kini kian penting karena memberi ruang untuk berhenti dan mendengarkan suara-suara yang sering terabaikan di tengah derasnya arus media sosial.

Bagi Kopple, dokumenter mampu menumbuhkan empati. Ia menyebut sesama pembuat film dokumenter tidak saling bersaing, melainkan saling mendukung agar karya mereka berkembang.

Union Town menambah deretan dokumenter advokasi yang menyoroti kondisi pekerja platform digital, isu yang juga makin relevan di pasar tenaga kerja Indonesia seiring tumbuhnya layanan kurir dan transportasi berbasis aplikasi.

Terkini