NUSAAKSARA.COM — Proyek film "6TM" garapan sutradara Karim Akalay meraih New Visions Award sebagai proyek Eropa paling menjanjikan di Ji.hlava Documentary Film Festival. Kisahnya berlatar musim panas menyengat di Cité Modèle, kompleks perumahan terbesar di Brussels, dan mengikuti tiga generasi satu keluarga. Produksi film ini dijadwalkan mulai syuting pada Juli 2027.
Berbeda dari dokumenter sosial yang biasanya menekankan penderitaan, "6TM" memilih pendekatan lain. Akalay menyebut karyanya sebagai "komedi keluarga Belgia dalam tiga babak" yang berakar pada realisme magis dan ketangguhan sebuah komunitas.
Premis Tiga Babak di Cité Modèle
Cerita "6TM" berlangsung di Cité Modèle, kompleks perumahan terbesar di Brussels, pada musim panas yang membakar. Tiga narasi dalam satu keluarga saling bersinggungan di tengah tekanan hidup kawasan itu.
Dua anak memburu kunci ajaib demi mencegah sahabat mereka yang menggunakan kursi roda terusir dari rumah akibat lift yang rusak. Seorang remaja perempuan merakit tim berisi anak-anak yang tak biasa untuk bertanding di turnamen sepak bola. Sementara sang ibu menggerakkan para tetangga untuk mengungkap siapa yang mencuri hujan.
Setiap tokoh menghadapi masalah yang sangat nyata, tapi masing-masing menemukan solusi yang sangat magis. "Cité Modèle adalah salah satu kompleks perumahan terbesar dan paling simbolik di Brussels, tempat saya lahir," kata Akalay.
Arti Judul dan Bahasa Warga
Judul "6TM" merupakan permainan kata dalam bahasa Prancis. "6T" yang dibaca "six-T" terdengar seperti "cité", kata untuk kompleks perumahan, sementara "m" merujuk pada "modèle".
Bagi Akalay, penulisan itu bukan sekadar singkatan. "Itu bahasa orang-orang yang tinggal di sana. Menulisnya dengan cara seperti itu adalah cara warga menjadikan tempat itu milik mereka," ujarnya. Judul film, katanya, datang dari dalam lingkungan itu sendiri, sama seperti ceritanya.
Mengapa Ada Tiga Tokoh Utama
Pilihan menghadirkan banyak protagonis dinilai Akalay sebagai keputusan yang wajar. Sebuah kompleks perumahan, menurutnya, tidak pernah menjadi kisah satu orang saja.
"Di Cité, kehidupan anak-anak, remaja, dan orang tua semuanya terhubung. Dengan mengikuti tiga generasi satu keluarga, saya bisa menunjukkan bagaimana seluruh komunitas bertahan dengan caranya masing-masing," kata Akalay. "Ini film tentang kekuatan kolektif, bukan tentang satu pahlawan."
Realisme Magis dan Semangat Anti-Realisme Sosial
Akalay sejak awal ingin memadukan realisme magis dengan latar yang realistis. Belgia punya tradisi kuat realisme sosial, dengan kakak beradik Dardenne sebagai contoh paling dikenal.
"Film-film itu penting, tapi mereka sering menggambarkan orang-orang seperti tetangga saya hanya lewat penderitaan. Saya ingin melakukan sebaliknya, semacam 'anti-realisme sosial'," tuturnya. Masalah dalam "6TM" nyata: lift rusak, panas menyengat, warga yang tergusur. Namun respons para tokohnya ceria, lucu, dan penuh akal.
Produser Walid Bekhti dan Hanoulia Salamé menegaskan bahwa realisme justru membuat unsur magisnya kredibel. Film ini akan digarap di lokasi asli dengan aktor non-profesional dan cerita nyata dari lingkungan setempat, sehingga fantasi tidak terasa sebagai pelarian.
Sasaran Penonton dan Jadwal Produksi
"6TM" menyasar penonton lintas usia. Anak-anak dan remaja bisa menikmati petualangannya, sementara orang dewasa mengenali realitas sosial di baliknya. Tim produksi juga ingin menjangkau penonton yang jarang melihat kawasan seperti Cité Modèle di layar selain lewat drama.
Akalay turut memikirkan Generasi Z sebagai audiens. Di Belgia dan Prancis, menurutnya, generasi ini marah dan menunjukkannya, tapi tidak hanya lewat protes. "Mereka membuat video, musik, dan gambar, lalu mengubah kemarahan itu menjadi sesuatu yang inventif dan sering kali sangat lucu," ujarnya.
Produksi "6TM" digarap Walid Bekhti dan Hanoulia Salamé untuk Centre Vidéo de Bruxelles dengan dukungan Wallonia-Brussels Federation, Groupe Ouest, dan New Dawn Fund. Syuting direncanakan berlangsung Juli 2027.
Kemenangan di Ji.hlava memberi proyek ini modal awal berupa perhatian festival internasional. Bagi pasar film dokumenter Indonesia, model produksi yang memadukan isu sosial dengan imajinasi semacam ini bisa jadi rujukan untuk proyek komunitas yang ingin tampil lebih ringan tanpa kehilangan kedalaman.