NUSA AKSARA – Industri K-Pop kembali diguncang isu serius. Sejumlah trainee asing, terutama dari Jepang serta beberapa negara Asia Tenggara dan Eropa, mengaku menjadi korban praktik tidak transparan oleh akademi pelatihan di Korea Selatan. Mereka merasa “dijebak” mimpi menjadi idol, setelah diminta membayar puluhan juta Won namun tidak mendapatkan pelatihan yang dijanjikan.
Beberapa laporan bahkan menyebut dugaan pelecehan verbal, tekanan psikologis, hingga eksploitasi kontrak, menambah daftar panjang sisi gelap industri hiburan Korea yang selama ini dikenal glamor di atas panggung.
Bayar Mahal, Mimpi Tak Kunjung Datang
Para trainee mengungkapkan bahwa mereka direkrut melalui audisi daring atau perantara agensi lokal di negara asal. Setelah lolos seleksi awal, mereka diminta pindah ke Korea dengan janji pelatihan intensif, kesempatan debut, serta dukungan akomodasi.
Namun realitasnya jauh dari harapan.
“Kami dijanjikan kelas vokal dan dance setiap hari, tapi sebagian besar waktu hanya menunggu tanpa kejelasan. Uang sudah habis, kontrak pun sulit dipahami,” ungkap salah satu trainee asal Jepang kepada media lokal Korea.
Beberapa trainee bahkan mengaku harus menanggung biaya hidup sendiri, meski sebelumnya disebutkan sebagai fasilitas agensi. Ketika mempertanyakan hak mereka, sebagian justru mendapat tekanan untuk tetap bertahan atau terancam denda kontrak.
Celah Regulasi dan Posisi Lemah Trainee Asing
Pengamat industri hiburan Korea menilai kasus ini menunjukkan ketimpangan relasi kuasa antara akademi atau agensi dengan trainee, terutama yang berasal dari luar negeri.
“Trainee asing berada di posisi paling rentan. Mereka tidak memahami bahasa, hukum, dan budaya kerja Korea, sementara regulasi khusus untuk melindungi mereka masih sangat terbatas,” kata seorang aktivis perlindungan pekerja muda di Seoul.
Berbeda dengan agensi besar yang berada di bawah pengawasan publik dan media internasional, banyak akademi pelatihan kecil beroperasi di area abu-abu. Mereka tidak selalu terdaftar sebagai agensi hiburan resmi, namun tetap menarik biaya tinggi dari calon idol luar negeri.
Harga Mahal Sebuah Mimpi
Skandal ini kembali membuka diskusi tentang harga mahal sebuah mimpi di industri K-Pop. Di balik cerita sukses idol global, ada ribuan trainee yang tak pernah debut dan sebagian harus menanggung kerugian finansial serta trauma psikologis.
Bagi trainee asing, taruhannya bahkan lebih besar: meninggalkan keluarga, negara, dan pendidikan demi peluang yang belum tentu nyata.
Kasus “K-Pop Scams” ini pun memicu desakan agar pemerintah Korea Selatan memperketat regulasi, termasuk transparansi kontrak, pembatasan biaya pelatihan, serta mekanisme pengaduan yang aman bagi trainee asing.
Tanpa perlindungan yang memadai, mimpi menjadi bintang justru bisa berubah menjadi pengalaman pahit yang membekas lama setelah lampu panggung padam.
(CHY)