NUSA AKSARA — Lady Gaga kembali mengejutkan publik. Penyanyi dan aktris pemenang Oscar itu secara resmi merilis teaser film dokumenter berjudul The Last Joker, yang mengupas proses transformasi ekstremnya saat memerankan Harley Quinn dalam film Joker: Folie à Deux.
Dokumenter ini digadang-gadang akan menampilkan sisi paling gelap dari perjalanan kreatif Gaga. Dimulai dari tekanan psikologis, metode akting ekstrem, hingga dampaknya terhadap kesehatan mentalnya selama proses syuting.
Di Balik Senyum Harley Quinn
Dalam teaser berdurasi singkat yang dirilis di media sosialnya, Gaga tampak duduk sendirian di ruang ganti, dengan riasan Harley Quinn yang mulai luntur.
“Ada bagian dari diriku yang tidak pernah kembali setelah peran ini,” ucap Gaga dalam potongan narasi teaser tersebut.
Pernyataan ini langsung memicu diskusi luas di kalangan penggemar dan kritikus film. Banyak yang menilai The Last Joker bukan sekadar dokumenter promosi, melainkan pengakuan personal tentang harga mahal yang harus dibayar demi peran ikonik.
Method Acting dan Harga Kesehatan Mental
Lady Gaga dikenal sebagai penganut method acting, pendekatan akting di mana aktor benar-benar “hidup” sebagai karakter, bahkan di luar kamera. Pendekatan ini sebelumnya juga ia terapkan saat memerankan Ally dalam A Star Is Born dan Patrizia Reggiani di House of Gucci.
Namun, untuk Harley Quinn, intensitasnya disebut jauh lebih ekstrem.
Sutradara Joker: Folie à Deux, Todd Phillips, sebelumnya sempat menyinggung dedikasi Gaga.
“Gaga tidak sekadar memerankan Harley. Ia menjadi Harley. Dan itu bukan proses yang mudah,” ujar Phillips dalam wawancara promosi film.
Dokumenter ini diyakini akan membuka diskusi penting tentang batas antara seni dan kesehatan mental, terutama bagi aktor kelas atas yang mengejar keautentikan emosional.
Bukan Pertama Kali Gaga Bicara Soal Luka Batin
Isu kesehatan mental bukan hal baru bagi Lady Gaga. Ia secara terbuka pernah membahas pengalaman trauma dan depresi, termasuk dalam film dokumenter Gaga: Five Foot Two (2017).
Namun The Last Joker disebut-sebut akan menjadi proyek paling personalnya sejauh ini—karena menyentuh proses kehilangan identitas diri demi karakter fiktif.
“Saya mencintai seni, tapi saya juga belajar bahwa saya harus mencintai diri saya sendiri,” kata Gaga dalam cuplikan lain dokumenter tersebut.
Seni, Popularitas, dan Batas yang Kabur
Di tengah industri hiburan yang terus menuntut performa maksimal, dokumenter ini dinilai sebagai refleksi jujur tentang sisi kelam method acting. Sesuatu hal yang kerap dipuja, namun jarang dibicarakan dampaknya.
The Last Joker bukan hanya tentang Harley Quinn, melainkan tentang Lady Gaga sebagai manusia, yang berani membuka luka demi sebuah kejujuran artistik. Dokumenter ini dijadwalkan tayang dalam waktu dekat, menyusul perilisan Joker: Folie à Deux di bioskop global.
(CHY)