NUSA AKSARA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus memantau ketat potensi risiko ekonomi global akibat eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS), terutama setelah penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, menegaskan pemerintah mencermati perkembangan geopolitik global yang berpotensi memengaruhi stabilitas perekonomian nasional.
“Pemerintah terus memantau secara cermat dinamika geopolitik global serta berbagai risiko yang berpotensi mempengaruhi perekonomian nasional,” ujar Febrio dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Risiko Energi dan Volatilitas Pasar
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dinilai berisiko mengganggu rantai pasok global, khususnya distribusi energi dan minyak bumi.
Kemenkeu juga menyoroti potensi peningkatan volatilitas pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik yang berlarut dapat memicu tekanan pada nilai tukar, arus modal, serta biaya logistik internasional.
Selain itu, ketegangan perdagangan global berpotensi menekan kinerja ekspor nasional akibat melemahnya permintaan eksternal dan meningkatnya ongkos distribusi.
Fundamental Ekonomi Tetap Terjaga
Meski risiko eksternal meningkat, pemerintah memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Hal ini tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut.
Pada Januari 2026, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar 950 juta dolar AS. Kinerja ekspor mencapai 22,16 miliar dolar AS atau tumbuh 3,39 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), ditopang oleh ekspor nonmigas.
Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 8,19 persen (yoy). Komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, serta produk bernilai tambah tinggi seperti otomotif dan elektronik turut menopang kinerja ekspor.
Di sisi lain, impor tercatat 21,20 miliar dolar AS atau tumbuh 18,21 persen (yoy). Peningkatan ini didominasi bahan baku dan barang modal, mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi dan investasi domestik.
APBN Dijaga di Bawah 3 Persen PDB
Secara paralel, Kemenkeu memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap dikelola secara hati-hati. Pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Pemerintah juga terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Febrio.
Langkah mitigasi risiko ditempuh melalui percepatan hilirisasi sumber daya alam serta peningkatan daya saing produk ekspor bernilai tambah. Pemerintah juga memperluas diversifikasi mitra dagang melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional guna memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia.
(CHY/CTA)