Kisah Pengguna Ikuti Saran ChatGPT ke Rumah Sakit

Kisah Pengguna Ikuti Saran ChatGPT ke Rumah Sakit
FOTO: ilustrasi generate AI.

NUSA AKSARA - Perkembangan kecerdasan buatan sering dikaitkan dengan kekhawatiran bahwa teknologi membuat manusia semakin bergantung pada mesin. Namun dalam beberapa situasi, AI justru menjadi tempat bertanya ketika seseorang tidak memiliki orang lain untuk berdiskusi.

Dilansir dari MedicalDaily, pengalaman tersebut dialami oleh seorang pengguna media sosial bernama Flavio Adamo. Ia mengaku mendapat dorongan penting dari chatbot ChatGPT saat mencoba memahami gejala kesehatan yang ia rasakan.

Bertanya ke AI saat gejala muncul

Adamo menjelaskan bahwa ia awalnya mengalami nyeri yang dianggap ringan. Ia memutuskan untuk beristirahat dan berharap rasa sakit tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Namun pada pagi hari berikutnya kondisi justru terasa lebih buruk. Tanpa memiliki referensi cepat untuk memahami gejala yang muncul, ia memutuskan menuliskan keluhannya kepada ChatGPT.

Setelah membaca deskripsi gejala tersebut, chatbot memberikan respons yang cukup tegas. Pesan yang muncul berbunyi, “Go to the hospital. NOW.”

Respons yang terasa tidak biasa

Adamo mengaku awalnya meragukan respons tersebut. Ia merasa sistem biasanya tidak memberikan peringatan dengan nada yang begitu mendesak.

Namun ketika rasa sakit terus meningkat, ia akhirnya memutuskan mengikuti saran tersebut dan pergi ke rumah sakit. Keputusan itu kemudian terbukti penting dalam penanganan kondisinya.

Dokter menyebut waktu sangat menentukan

Di rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan dan menjelaskan bahwa kondisinya cukup serius. Dalam unggahan di media sosial, Adamo menuliskan penjelasan dokter yang ia terima.

“Won't go into details but doctors said if I had arrived 30 mins later I would've lost an organ.”

Ia tidak mengungkapkan diagnosis secara rinci. Namun ia menyampaikan bahwa keputusan untuk segera memeriksakan diri kemungkinan mencegah komplikasi yang lebih berat.

Dalam unggahannya ia menulis, “ChatGPT literally saved me.”

AI sebagai alat memahami situasi

Kisah tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu diskusi tentang peran AI dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pengguna melihat teknologi ini sebagai alat untuk memahami situasi awal ketika tidak ada orang lain untuk dimintai pendapat.

CEO OpenAI, Sam Altman, juga menanggapi cerita tersebut. Ia menuliskan pesan singkat kepada pengguna tersebut dengan mengatakan, “Really happy to hear!”

Meski demikian, para ahli tetap menekankan bahwa kecerdasan buatan tidak menggantikan pemeriksaan medis profesional. Chatbot hanya memberikan penjelasan awal berdasarkan informasi yang dimasukkan pengguna.

Dilansir dari MedicalDaily, penggunaan AI sebagai sumber informasi kesehatan semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun keputusan medis tetap harus dilakukan melalui konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menggantikan peran manusia. Dalam beberapa situasi, AI justru menjadi ruang percakapan awal yang membantu seseorang mengambil keputusan untuk mencari bantuan yang tepat.

(CHY)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index