NUSA AKSARA – Pemerintah Thailand memantau peningkatan kasus Melioidosis yang terjadi sejak awal tahun 2026.
Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran terhadap tren infeksi yang terus meningkat di sejumlah wilayah.
Dikutip dari laman China Daily Asia, Minggu (19/4/2026), Wakil Juru Bicara Pemerintah Thailand, Lalida Periswiwatana pada Sabtu kemarin mengatakan bahwa Melioidosis disebabkan oleh bakteri yang ditemukan di tanah dan air.
Penyebab dan Cara Penularan
Menurut Periswiwatana, menjelaskan bahwa bakteri Melioidosis tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka, debu yang terhirup, atau konsumsi air yang terkontaminasi.
"Gejala yang ditimbulkan pun dapat bersifat akut dan kronis, mulai dari demam tinggi, kesulitan bernafas, nyeri dada hingga lesi merah bengkak atau abses," kata dia.
Ia menambahkan bahwa infeksi dapat menjadi lebih serius jika bakteri menyebar ke aliran darah. Kondisi ini berpotensi menyebabkan komplikasi berat hingga kematian.
Kelompok Berisiko Tinggi
Pemerintah menyebut pekerja yang sering kontak dengan tanah dan air memiliki risiko lebih tinggi terpapar infeksi ini.
Kelompok tersebut mencakup petani dan pekerja sektor pertanian. Selain itu, individu dengan penyakit kronis juga lebih rentan mengalami gejala berat.
Kondisi seperti diabetes, gangguan ginjal, thalassemia, serta sistem kekebalan tubuh yang lemah menjadi faktor risiko tambahan.
Imbauan Pemerintah
Pemerintah Thailand mengimbau masyarakat untuk mengurangi kontak langsung dengan tanah dan air, terutama bagi kelompok berisiko tinggi.
Selain itu, masyarakat diminta segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala seperti demam tinggi lebih dari dua hari, sesak napas, atau luka yang terinfeksi.
Upaya ini dilakukan untuk menekan risiko penyebaran dan mengurangi angka kematian akibat Melioidosis di Thailand.
(Fitri Wulandari / CHY)