NUSAAKSARA.COM — PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menawarkan obligasi berwawasan sosial berkelanjutan tahap II senilai Rp2 triliun dengan kupon tetap hingga 7,25% per tahun pada 29 September-1 Oktober 2026. Dana emisi dialokasikan untuk proyek sosial, termasuk perumahan terjangkau dan pembiayaan UMKM.
Sebelumnya, BTN telah menerbitkan Tahap I Tahun 2025 sebesar Rp300 miliar. Artinya, tahap II ini menjadi porsi terbesar dari total target yang dicanangkan perseroan.
Rincian Dua Seri Obligasi
Obligasi tahap II ditawarkan dalam dua seri, yakni Seri A dan Seri B, dengan harga penawaran 100% dari nilai nominal.
Seri A memiliki jumlah pokok Rp950 miliar dengan tingkat bunga tetap 7,05% per tahun dan tenor 370 hari kalender sejak tanggal emisi. Seri B menawarkan kupon lebih tinggi, 7,25% per tahun, dengan jumlah pokok Rp1,05 triliun dan tenor tiga tahun.
Bunga obligasi dibayarkan setiap triwulan. Pembayaran bunga pertama dijadwalkan pada 6 Januari 2027. Seri A akan jatuh tempo pada 16 Oktober 2027, sedangkan Seri B jatuh tempo 6 Oktober 2029.
Investor dapat memesan obligasi ini dengan nilai sekurang-kurangnya Rp5 juta dan kelipatannya.
Jadwal Penawaran dan Pencatatan
Masa penawaran umum berlangsung 29 September-1 Oktober 2026. Penjatahan dijadwalkan pada 2 Oktober 2026, sedangkan pengembalian uang pemesanan dan distribusi obligasi secara elektronik dilakukan pada 6 Oktober 2026.
Obligasi tersebut akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 7 Oktober 2026. BTN menunjuk PT BCA Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Indo Premier Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi sekaligus penjamin emisi.
Emisi dijamin dengan kesanggupan penuh atau full commitment. Porsi penjaminan terbesar dipegang Mandiri Sekuritas sebesar Rp720,415 miliar atau 36,02%, disusul Indo Premier Sekuritas Rp568,035 miliar atau 28,40%, BRI Danareksa Sekuritas Rp391,1 miliar atau 19,56%, dan BCA Sekuritas Rp320,45 miliar atau 16,02%. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk bertindak sebagai wali amanat.
Ke Mana Dana Rp2 Triliun Dialokasikan
Seluruh dana hasil penawaran umum setelah dikurangi biaya emisi digunakan untuk pembiayaan dan/atau pembiayaan kembali proyek sosial baru maupun yang sudah ada. Cakupannya meliputi layanan infrastruktur dasar yang terjangkau dari sisi akses dan harga, perumahan terjangkau, penciptaan lapangan kerja, serta program untuk mencegah dan mengurangi pengangguran.
Dana juga bisa disalurkan untuk pembiayaan usaha kecil dan menengah serta pembiayaan mikro. BTN menargetkan alokasi dana rampung dalam dua tahun sejak tanggal penerbitan.
Porsi pembiayaan baru ditetapkan mayoritas, sekitar 80%-100% dari total dana. Adapun pembiayaan kembali dibatasi maksimal 20%, dengan periode tinjauan maksimal tiga tahun untuk proyek yang dibiayai ulang.
Dana hasil penerbitan ditempatkan dalam rekening khusus dan dialokasikan sesuai ketentuan POJK Nomor 18 Tahun 2023. BTN wajib menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana setiap enam bulan hingga seluruh dana direalisasikan.
Peringkat idAAA dan Risiko bagi Investor
BTN memperoleh hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dengan peringkat idAAA atau Triple A. Peringkat ini berlaku untuk periode 4 September 2026 hingga 1 September 2027. BTN menyatakan tidak ada hubungan afiliasi dengan perusahaan pemeringkat tersebut.
Meski berperingkat tertinggi, obligasi ini tidak dijamin dengan jaminan khusus. Obligasi dijamin dengan seluruh harta kekayaan perusahaan, baik barang bergerak maupun tidak bergerak, yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian hari.
Hak pemegang obligasi bersifat paripassu tanpa hak preferen dengan hak kreditur perusahaan lainnya, kecuali kreditur yang memiliki jaminan khusus. Risiko utama yang dihadapi investor adalah risiko tidak likuidnya obligasi, terutama karena instrumen ini ditujukan sebagai investasi jangka panjang.
Per 30 Juni 2026, BTN mencatatkan total aset Rp545,16 triliun, naik 12,45% dibandingkan posisi yang sama tahun sebelumnya. Kredit yang diberikan tercatat Rp344,71 triliun, sedangkan pembiayaan dan piutang syariah mencapai Rp58,21 triliun.
Bagi investor yang mencari instrumen pendapatan tetap berperingkat Triple A, obligasi sosial BTN ini menawarkan kupon kompetitif di kisaran 7%. Namun perlu diingat, likuiditasnya terbatas karena dirancang untuk investasi jangka panjang.