BEI Catat 7 Calon Emiten Antre IPO Kuartal IV, 2 Beraset Jumbo

BEI Catat 7 Calon Emiten Antre IPO Kuartal IV, 2 Beraset Jumbo
Bursa Efek Indonesia mencatat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham perdana hingga kuartal IV 2026.

NUSAAKSARA.COM — Bursa Efek Indonesia mencatat tujuh perusahaan masih mengantre untuk melantai di bursa saham pada kuartal IV 2026, dengan dua di antaranya beraset di atas Rp 250 miliar. Pipeline tipis ini muncul setelah jumlah IPO sepanjang Januari-Agustus 2026 anjlok sekitar 68,2% dibanding periode yang sama tahun lalu. Nilai penghimpunan dana ikut terpangkas dalam, dari Rp 10,39 triliun menjadi Rp 2,16 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin menyatakan tujuh perusahaan itu masih berada dalam pipeline pencatatan saham perdana hingga saat ini. Komposisinya terdiri dari dua perusahaan beraset skala besar, tiga perusahaan beraset menengah, dan dua perusahaan beraset kecil.

"Hingga saat ini, terdapat 7 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," kata Saidu, dikutip Selasa (6/10/2026).

Dua Sektor Mendominasi Calon Emiten

Dari sisi sektor, empat dari tujuh calon emiten berasal dari sektor kesehatan. Sisanya, dua perusahaan dari sektor energi dan satu perusahaan dari sektor industri.

Hingga 2 Oktober 2026, BEI mencatat tujuh perusahaan yang sudah resmi mencatatkan sahamnya di lantai bursa dengan total penghimpunan dana Rp 2,16 triliun. Angka itu jauh di bawah capaian periode yang sama tahun lalu.

Data BEI menunjukkan jumlah IPO hingga Agustus 2026 turun sekitar 68,2% dibandingkan 22 perusahaan pada Januari-Agustus 2025. Penghimpunan dana juga anjlok sekitar 79,2% dari Rp 10,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 2,16 triliun.

Ketidakpastian Geopolitik Jadi Pemicu

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut penurunan jumlah calon emiten dipengaruhi sejumlah faktor, dengan dinamika pasar global sebagai salah satu penyebab utama.

"Penurunan calon perusahaan untuk melakukan IPO dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dinamika kondisi pasar global, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi timing perusahaan untuk melaksanakan penawaran umum," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Ketidakpastian itu membuat sejumlah perusahaan memilih menunda penawaran umum ketimbang melantai di tengah gejolak pasar. Keputusan timing menjadi krusial karena harga penawaran yang terlalu rendah berisiko merugikan valuasi emiten.

OJK Kejar Target Penghimpunan Rp 250 Triliun

OJK menargetkan penghimpunan dana pasar modal sebesar Rp 250 triliun pada 2026. Hingga 6 September 2026, realisasinya baru mencapai Rp 148,3 triliun, menyisakan pekerjaan besar di sisa tahun.

Hasan menegaskan OJK tidak hanya mengejar jumlah perusahaan yang IPO, tetapi juga memperhatikan total penghimpunan dana di pasar modal.

"Dalam mencapai target dimaksud, OJK tetap senantiasa mengedepankan pada kualitas keterbukaan informasi serta kesiapan calon emiten," imbuh Hasan.

Minat Investor pada Saham Baru Belum Pulih Merata

Minimnya jumlah IPO tidak sepenuhnya berarti saham-saham baru kehilangan minat investor. Sejumlah saham hasil IPO 2026 masih mencatat lonjakan harga signifikan setelah debut di lantai bursa.

Meski begitu, kondisi tersebut belum cukup untuk menunjukkan pemulihan fungsi pasar perdana sebagai sumber pendanaan perusahaan. Pasar perdana baru berfungsi optimal jika jumlah emiten dan nilai penghimpunan dana bergerak searah.

OJK bersama BEI terus melakukan sosialisasi dan coaching clinic di sejumlah daerah. Langkah itu diarahkan untuk mendorong perusahaan yang siap melantai di bursa agar masuk ke pipeline pencatatan saham.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index