MSCI Ancam Downgrade Pasar Saham, Rupiah Sentuh Rp18.053 per Dolar AS

MSCI Ancam Downgrade Pasar Saham, Rupiah Sentuh Rp18.053 per Dolar AS
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Rupiah melemah ke Rp18.053 per dolar AS setelah MSCI mengusulkan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Usulan itu memicu risiko arus modal keluar yang besar, sementara investor bisa mengurangi eksposur sebelum keputusan final Juni 2027.

Mengapa Status di MSCI Penting bagi Rupiah

Penurunan status dari emerging market ke standalone market berarti bobot saham Indonesia dalam indeks acuan global berkurang drastis. Dana asing yang selama ini masuk mengikuti indeks tersebut berpotensi menarik dananya lebih dulu, sebelum keputusan final diambil.

Kepala Departemen Makroekonomi INDEF, Muhammad Rizal Taufikurrahman, menilai investor tidak akan menunggu sampai Juni 2027. Mereka bisa mengurangi eksposur lebih awal begitu sinyal ketidakpastian muncul.

"Penjualan saham asing yang diikuti pembelian dolar berpotensi menekan rupiah, sementara memburuknya persepsi risiko dapat menjalar ke SBN dan menaikkan biaya pembiayaan," ujar Rizal kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/10/2026).

Arus Modal Asing Sudah Keluar Sejak Awal Tahun

Tekanan ini bukan proyeksi kosong. Equity Analyst Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus, mencatat net foreign outflow saham Indonesia sudah mencapai USD 4,9 miliar secara year-to-date di seluruh pasar. Rupiah juga telah melemah lebih dari 7% sejak awal tahun.

"Risiko ini relevan mengingat tercatat net foreign outflow saham Indonesia mencapai USD 4,9 miliar secara ytd di all market, sementara rupiah telah melemah lebih dari 7% secara year-to-date," kata Revo kepada CNBC Indonesia.

Revo memperkirakan dalam satu bulan ke depan rupiah bergerak di rentang Rp17.724-Rp18.499 per dolar AS dengan probabilitas 74,9%. Untuk satu minggu ke depan, rentangnya Rp17.889-Rp18.280 dengan tingkat kemungkinan 77%.

Rp18.000 Bukan Otomatis Titik Krisis

Rizal menegaskan level Rp18.000 per dolar AS tidak serta-merta menandakan krisis. Yang lebih berbahaya adalah pelemahan yang berlangsung lama karena akan mempermahal bahan baku impor dan pembayaran utang valas.

Dampaknya merembet ke dunia usaha: margin tertekan, dan ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga menyempit. Intervensi bank sentral pun dinilai tidak cukup jika hanya menstabilkan kurs.

"Tanpa pembenahan sumber ketidakpercayaan, stabilisasi kurs hanya membeli waktu dengan biaya ekonomi yang semakin besar," tegas Rizal.

Rizal menyarankan intervensi BI disertai transparansi kepemilikan saham, penindakan manipulasi, dan disiplin fiskal yang kredibel.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Revo menyebut tekanan terhadap rupiah berpotensi bertahan jika ketidakpastian seputar MSCI berlanjut dan memicu tambahan arus keluar modal. Posisi indeks dolar AS (DXY) yang stabil di atas angka 100 turut menahan ruang penguatan rupiah.

"Apabila ketidakpastian MSCI berlanjut dan memicu tambahan arus keluar modal, tekanan terhadap rupiah berpotensi bertahan di tengah DXY yang saat ini stabil di atas angka 100," ujarnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index