NUSA AKSARA - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat kembali memantik perbincangan global. Isu tersebut menghidupkan kembali pertanyaan lama: sejauh mana Washington pernah bertindak langsung terhadap kepala negara asing yang dianggap berseberangan dengan kepentingannya.
Dihimpun berbagai sumber, hubungan AS dan Venezuela telah memanas dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintahan Presiden Donald Trump menuding Maduro memimpin “negara narkoba” serta melakukan manipulasi pemilu.
Caracas membantah keras tuduhan itu dan menuding Washington berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela, yang merupakan salah satu terbesar di dunia.
Meski demikian, penangkapan Maduro bukanlah hal baru dalam sejarah kebijakan luar negeri AS. Dalam catatan sejarah modern, ada sejumlah presiden maupun mantan presiden yang pernah ditangkap oleh AS, baik melalui operasi militer maupun proses hukum lintas negara.
Berikut daftar presiden dan mantan presiden negara lain yang pernah ditangkap AS.
1. Manuel Noriega (Panama)
Kasus paling jelas dan kerap dijadikan preseden adalah Manuel Noriega, Presiden de facto Panama pada akhir 1980-an.
Pada Desember 1989, AS melancarkan Operasi Just Cause, sebuah invasi militer besar-besaran ke Panama. Washington berdalih operasi itu dilakukan untuk melindungi warga AS, memerangi perdagangan narkotika, dan memulihkan demokrasi.
Noriega, yang sebelumnya dikenal sebagai sekutu Badan Intelijen AS, yakni Central Intelligence Agency (CIA), dituduh terlibat dalam jaringan narkoba dan pencucian uang. Setelah sempat bersembunyi di Kedutaan Vatikan di Panama City, Noriega akhirnya menyerahkan diri kepada pasukan AS pada Januari 1990.
Ia kemudian diterbangkan ke Miami, diadili di pengadilan federal AS, dan dijatuhi hukuman penjara 40 tahun, yang kemudian dikurangi. Hingga kini, penangkapan Noriega tercatat sebagai satu-satunya presiden yang ditangkap melalui invasi militer langsung AS.
2. Saddam Hussein (Irak)
Nama Saddam Hussein tak terpisahkan dari sejarah panjang intervensi militer AS di Timur Tengah. Saddam memimpin Irak selama lebih dari dua dekade sebelum digulingkan melalui invasi AS pada 2003 dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal.
Setelah Baghdad jatuh, Saddam menjadi buronan utama pasukan koalisi. Pada Desember 2003, tentara AS berhasil menangkapnya dalam Operasi Red Dawn di dekat Tikrit.
Meski saat ditangkap statusnya sudah sebagai presiden yang digulingkan, Saddam tetap menjadi target utama operasi militer AS. Ia kemudian diserahkan kepada otoritas Irak, diadili, dan dieksekusi mati pada 2006.
3. Juan Orlando Hernández (Honduras)
Berbeda dengan Noriega dan Saddam yang ditangkap dalam konteks perang, Juan Orlando Hernández ditangkap melalui mekanisme hukum dan ekstradisi, tak lama setelah masa jabatannya sebagai Presiden Honduras berakhir.
Departemen Kehakiman AS mendakwa Hernández sebagai bagian dari “konspirasi korup dan kekerasan perdagangan narkoba” yang disebut telah mengubah Honduras menjadi negara narkotika.
Pada Februari 2022, rumah Hernández di Tegucigalpa dikepung aparat keamanan Honduras yang bekerja sama dengan agen Drug Enforcement Administration (DEA) AS. Ia terlihat diborgol dan mengenakan rompi antipeluru sebelum diserahkan ke otoritas AS.
Pada 2024, pengadilan federal di New York menyatakan Hernández bersalah atas tuduhan konspirasi narkotika dan kepemilikan senjata api. Namun, ia kemudian diampuni oleh Trump pada 1 Desember 2025.
Tak lama setelah pembebasannya, jaksa penuntut umum Honduras justru mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Hernández. Langkah tersebut memicu kekacauan hukum dan politik di Honduras, hanya beberapa hari setelah mantan presiden itu keluar dari penjara AS. (CTA)