NUSA AKSARA – Iran dilaporkan menandatangani kesepakatan rahasia dengan Rusia untuk pembelian ribuan rudal canggih dalam kontrak bernilai 500 juta euro atau sekitar Rp9,9 triliun. Informasi ini pertama kali diungkap media Inggris, Financial Times, yang mengutip dokumen Rusia yang bocor serta sejumlah sumber yang mengetahui detail perjanjian tersebut.
Dilaporkan oleh Kyiv Independent, kesepakatan itu diteken di Moskow pada Desember lalu dan menjadi salah satu kerja sama militer terbesar kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.
Rincian Sistem Rudal yang Dibeli Iran
Berdasarkan laporan tersebut, Rusia akan mengirimkan 500 unit peluncur Sistem Pertahanan Udara Portabel (MANPADS) jenis Verba serta 2.500 rudal permukaan-ke-udara 9M336.
Sistem 9M336 merupakan bagian dari sistem MANPADS generasi terbaru Rusia yang dirancang untuk menghadapi pesawat, helikopter, hingga drone pada jarak pendek hingga menengah. Pengiriman akan dilakukan dalam tiga tahap mulai 2027 hingga 2029 sesuai jadwal yang disepakati.
Negosiasi kontrak ini disebut melibatkan perusahaan eksportir senjata milik negara Rusia, Rosoboronexport, dan perwakilan dari Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran (MODAFL).
Meningkat di Tengah Ketegangan Nuklir
Kesepakatan ini mencuat di tengah meningkatnya tensi geopolitik terkait negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman kemungkinan tindakan militer terhadap Iran.
Putaran pembicaraan nuklir berikutnya dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada 26 Februari, dengan keterlibatan Rusia sebagai salah satu aktor kunci dalam dinamika diplomasi tersebut.
Iran sendiri dilaporkan mengajukan permintaan resmi sistem rudal itu pada Juli 2025, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel pada Juni. Sebelumnya, Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina juga menyebut Iran sempat meminta bantuan Belarus untuk memulihkan sistem pertahanan udara dan sistem peperangan elektronik yang rusak akibat eskalasi konflik dengan Israel.
Hubungan Militer Semakin Erat
Kerja sama pertahanan Rusia dan Iran memang kian intens dalam beberapa tahun terakhir. Teheran diketahui memasok drone dan berbagai perlengkapan militer yang digunakan Moskow dalam perang melawan Ukraina.
Terbaru, kedua negara juga menggelar latihan angkatan laut gabungan di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara pada 19 Februari. Latihan tersebut berlangsung di tengah laporan bahwa Angkatan Bersenjata Amerika Serikat mengerahkan kapal perang di sekitar wilayah Iran sebagai bagian dari langkah antisipatif terhadap potensi eskalasi.
Kesepakatan rudal ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa poros militer Moskow–Teheran semakin solid di tengah tekanan Barat dan dinamika konflik global yang terus berkembang.
Iran dilaporkan menandatangani kesepakatan rahasia dengan Rusia untuk pembelian ribuan rudal canggih dalam kontrak bernilai 500 juta euro atau sekitar Rp9,9 triliun. Informasi ini pertama kali diungkap media Inggris, Financial Times, yang mengutip dokumen Rusia yang bocor serta sejumlah sumber yang mengetahui detail perjanjian tersebut.
Dilaporkan oleh Kyiv Independent, kesepakatan itu diteken di Moskow pada Desember lalu dan menjadi salah satu kerja sama militer terbesar kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.
Rincian Sistem Rudal yang Dibeli Iran
Berdasarkan laporan tersebut, Rusia akan mengirimkan:
- 500 unit peluncur Sistem Pertahanan Udara Portabel (MANPADS) jenis Verba
- 2.500 rudal permukaan-ke-udara 9M336
Sistem 9M336 merupakan bagian dari sistem MANPADS generasi terbaru Rusia yang dirancang untuk menghadapi pesawat, helikopter, hingga drone pada jarak pendek hingga menengah. Pengiriman akan dilakukan dalam tiga tahap mulai 2027 hingga 2029 sesuai jadwal yang disepakati.
Negosiasi kontrak ini disebut melibatkan perusahaan eksportir senjata milik negara Rusia, Rosoboronexport, dan perwakilan dari Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran (MODAFL).
Meningkat di Tengah Ketegangan Nuklir
Kesepakatan ini mencuat di tengah meningkatnya tensi geopolitik terkait negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman kemungkinan tindakan militer terhadap Iran.
Putaran pembicaraan nuklir berikutnya dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada 26 Februari, dengan keterlibatan Rusia sebagai salah satu aktor kunci dalam dinamika diplomasi tersebut.
Iran sendiri dilaporkan mengajukan permintaan resmi sistem rudal itu pada Juli 2025, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel pada Juni. Sebelumnya, Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina juga menyebut Iran sempat meminta bantuan Belarus untuk memulihkan sistem pertahanan udara dan sistem peperangan elektronik yang rusak akibat eskalasi konflik dengan Israel.
Hubungan Militer Semakin Erat
Kerja sama pertahanan Rusia dan Iran memang kian intens dalam beberapa tahun terakhir. Teheran diketahui memasok drone dan berbagai perlengkapan militer yang digunakan Moskow dalam perang melawan Ukraina.
Terbaru, kedua negara juga menggelar latihan angkatan laut gabungan di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara pada 19 Februari. Latihan tersebut berlangsung di tengah laporan bahwa Angkatan Bersenjata Amerika Serikat mengerahkan kapal perang di sekitar wilayah Iran sebagai bagian dari langkah antisipatif terhadap potensi eskalasi.
Kesepakatan rudal ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa poros militer Moskow–Teheran semakin solid di tengah tekanan Barat dan dinamika konflik global yang terus berkembang.
(CHY/CTA)