Sanksi AS dan Tren Emas Global Guncang Dominasi Dolar

Rabu, 16 September 2026 | 21:37:01 WIB
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Cadangan emas dunia resmi melampaui kepemilikan surat utang AS pada 2025, sementara harga emas menembus US$5.000 per troy ounce. Gelombang repatriasi emas dan alternatif digital mempercepat erosi kepercayaan terhadap greenback. Bank Sentral Belanda memindahkan 95 ton emasnya keluar dari AS bulan ini.

Dominasi dolar Amerika Serikat sebagai mata uang cadangan utama dunia menghadapi tekanan berlapis. Data cadangan internasional menunjukkan emas kini melampaui kepemilikan asing atas Treasury AS, menandai pergeseran struktural dalam cara bank sentral mengelola risiko geopolitik.

Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde tahun lalu memperingatkan bahwa ketidakpastian kebijakan AS membuka jalan bagi momen euro global. Peringatan itu kini terbukti. Bank Sentral Belanda memindahkan sebagian besar dari 95 ton cadangan emasnya keluar dari AS bulan ini, beralasan kerusuhan geopolitik yang meningkat.

Operation Economic Outcast dan Tekanan Sanksi Sekunder

Washington mengintensifikasi penggunaan sanksi finansial sebagai alat kebijakan luar negeri. Pada Agustus, Scott Bessent mengumumkan inisiatif bertajuk Operation Economic Outcast yang menyasar ekonomi Iran. Program ini mengancam sanksi sekunder bagi negara mana pun yang tetap berhubungan ekonomi dengan Teheran.

Menteri Keuangan AS sendiri mengakui langkah tersebut berisiko besar. Jika ancaman dilaksanakan, sistem keuangan global bisa terguncang karena keterkaitan ekonomi antarnegara yang erat. Ekspor minyak Iran dilaporkan merosot di bawah 300.000 barel per hari akibat blokade dan sanksi.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan waktu terbaik mengakhiri perang dengan AS adalah sekarang, karena Iran berada dalam posisi kuat dan bermartabat. Jubir Kemenlu Iran Esmaeil Baghaei menyebut sanksi baru AS melanggar Piagam PBB dan bentuk penegasan kedaulatan ekstra-teritorial yang ilegal.

Repatriasi Emas: Belanda dan Prancis Tarik Cadangan

Bank Prancis menarik 129 ton emas dari Federal Reserve Bank of New York pada Maret untuk dibawa kembali ke Paris. Langkah serupa diikuti Belanda bulan ini. Pola ini menunjukkan kekhawatiran bank sentral Eropa terhadap risiko penyimpanan aset di yurisdiksi AS.

Harga emas mencetak rekor menembus US$5.000 per troy ounce, setara sekitar Rp78,5 juta dengan asumsi kurs Rp15.700. Bank sentral dunia menimbun logam mulia sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian kebijakan moneter dan geopolitik.

CBDC dan Stablecoin Jadi Jalur Alternatif

Musuh-musuh AS menemukan celah baru melalui teknologi keuangan. Mata uang digital bank sentral, stablecoin, dan kripto menawarkan jalur transaksi internasional tanpa melewati sistem perbankan AS. Tiongkok memimpin pengembangan platform mata uang digital lintas batas.

"Kisah menjauh dari dolar adalah salah satu kisah tertua yang ada," ujar Josh Lipsky, Ketua Ekonomi Internasional di Atlantic Council. Ia menambahkan teknologi kini membuat upaya tersebut lebih murah dan mudah dibandingkan sebelumnya.

Kekhawatiran Eropa terhadap Infrastruktur Teknologi AS

Daniel Tannebaum, pakar risiko dari Oliver Wyman, menilai penggunaan tarif dan kontrol ekspor yang agresif membuat negara-negara Eropa waspada. Mereka khawatir ketergantungan pada infrastruktur teknologi AS, termasuk kecerdasan buatan, bisa dijadikan senjata politik di masa depan.

"Pemerintah dan perusahaan sekarang harus bertanya apa yang akan terjadi jika Amerika Serikat membalikkan pengaruh ekonominya terhadap mereka," ujar Tannebaum.

Presiden AS Donald Trump menyebut Iran belum siap melakukan kesepakatan di tengah tekanan ekonomi ekstrem dan inflasi yang mencapai 350 persen. Pernyataan itu muncul saat Washington memperkuat cengkeraman sanksi terhadap Teheran.

Tekanan terhadap Rupiah dan Pasar Domestik

Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.614 per dolar AS pada Senin (14/9/2026). Pelemahan dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan lonjakan harga minyak dunia. Sehari sebelumnya, rupiah ditutup melemah 36 poin di level Rp17.547.

Pengamat menyoroti risiko fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia dan beban subsidi BBM. Pasar juga mengantisipasi pengumuman buyback surat utang AS. Pada Rabu (9/9), rupiah sempat menguat 121 poin ke Rp17.511 berkat derasnya arus modal masuk ke pasar obligasi pemerintah.

Fenomena erosi status AS sebagai pelabuhan aman bagi ekonomi dunia berlangsung bertahap. Yang ditunggu pasar adalah apakah Washington melunakkan pendekatan sanksi atau justru memperluasnya ke negara lain.

Terkini