NUSA AKSARA - Konsumsi jus delima secara rutin dinilai dapat membantu mengatur tekanan darah sekaligus mendukung pemulihan otot setelah olahraga. Manfaat ini dikaitkan dengan kandungan antioksidan seperti polifenol dan nitrat di dalamnya.
Menurut laporan Health pada Kamis (12/02/2026), para ahli merekomendasikan konsumsi jus delima sebagai bagian dari pola makan untuk kesehatan jantung. Konsistensi disebut lebih penting dibanding waktu konsumsi.
Dokter penyakit dalam di OSF Healthcare, John Rinker, MD, mengatakan waktu minum dapat disesuaikan dengan kebutuhan harian. “Untuk kesehatan jantung, jus delima bisa diminum kapan saja. Tetapi mengonsumsinya saat sarapan atau bersama makanan lain membantu penyerapan dan menjaga gula darah tetap stabil,” katanya.
Penelitian menunjukkan efek jus delima terhadap tekanan darah tidak terjadi secara instan. Dalam uji klinis, manfaatnya meningkat bertahap selama beberapa hari hingga minggu dan mencapai titik stabil setelah dua bulan.
Delima mengandung antioksidan yang membantu mengurangi stres oksidatif dan peradangan pada arteri. Kondisi ini dapat berkontribusi pada penurunan ringan tekanan darah sistolik dan mengurangi kekakuan arteri.
Ahli diet terdaftar Emily LaBombard, MPH, RDN, LDN menjelaskan peran nitrat alami dalam buah tersebut. “Jus delima juga mengandung nitrat alami yang berkontribusi pada produksi oksida nitrat, faktor kunci dalam menjaga aliran darah yang sehat, sirkulasi, dan pengaturan tekanan darah,” katanya.
Meski demikian, para ahli menegaskan jus delima bukan pengganti obat tekanan darah. Rinker mengingatkan bahwa pasien yang sudah mengonsumsi obat tertentu perlu berkonsultasi terlebih dahulu.
“Jus delima dapat sedikit meningkatkan efek obat tersebut pada sebagian orang,” ujarnya.
Selain mendukung kesehatan jantung, jus delima juga diteliti dalam konteks pemulihan otot. Deepak Vivek, MD, ahli jantung intervensi di Orlando Health Heart and Vascular Institute, mengatakan, “Jus delima telah diteliti pada atlet untuk membantu pemulihan otot setelah olahraga.”
Saat berolahraga, tubuh meningkatkan stres oksidatif dalam batas tertentu. Antioksidan pada delima dinilai membantu mengurangi beban tersebut dan mendukung perbaikan sel otot.
Satu tinjauan mencatat potensi manfaat ketika suplementasi delima dilakukan “selama atau setelah olahraga”. Rinker menilai waktu setelah latihan sekitar satu hingga dua jam merupakan pilihan yang logis untuk mendukung pemulihan.
Ia menambahkan bahwa konsumsi sebelum olahraga juga dapat membantu mendukung aliran darah. Namun manfaat kesehatan tetap dapat diperoleh kapan pun jus tersebut diminum secara rutin.
“Ini bukan solusi ajaib, tetapi bisa menjadi tambahan yang berguna untuk nutrisi pasca-olahraga, mirip seperti jus ceri asam,” kata Rinker.
Terkait takaran, ia menyarankan satu porsi harian sekitar empat sampai delapan ons jus delima 100 persen. Jumlah tersebut dianggap cukup memberikan manfaat tanpa berlebihan dalam asupan gula.
Satu porsi delapan ons jus delima 100 persen mengandung sekitar 31 gram gula dan 134 kalori. Bagi yang khawatir dengan kadar gula, jus dapat dicampur dengan air atau air berkarbonasi.
Alternatif lain adalah mengonsumsi biji delima utuh. Satu cangkir biji delima mengandung sekitar 20 gram gula dan memberikan tambahan serat.
Sarah Glinski, RD, menyarankan konsumsi jus delima bersama makanan yang mengandung serat, lemak, dan protein untuk membantu menjaga stabilitas gula darah. Pendekatan ini dinilai lebih seimbang dalam pola makan sehari-hari.
Meski memiliki sejumlah manfaat, tidak semua orang dapat mengonsumsinya tanpa pertimbangan. Penderita diabetes, pasien yang mengonsumsi pengencer darah seperti Warfarin, obat tekanan darah, atau obat jantung tertentu sebaiknya berkonsultasi lebih dulu.
Orang dengan penyakit ginjal, sensitivitas pencernaan, atau alergi makanan tertentu juga perlu berhati-hati. Konsultasi medis tetap menjadi langkah penting sebelum menjadikan jus delima sebagai konsumsi rutin harian.
(CHY)