NUSA AKSARA - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut situasi geopolitik tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi dunia.
Ketegangan meningkat setelah Iran menutup jalur strategis distribusi minyak dunia di Selat Hormuz. Jalur ini selama ini menjadi salah satu titik vital pengiriman minyak mentah global. Selain itu, kawasan Laut Merah juga dinilai berpotensi terdampak, sehingga memperbesar tekanan terhadap rantai pasok energi internasional.
“Kalau Iran, sudah pasti yang terganggu adalah suplai minyak karena Selat Hormuz terdampak. Belum juga Red Sea. Kita lihat seberapa jauh pertempuran ini berlangsung,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin.
Pemerintah Amankan Pasokan Non-Timur Tengah
Mengantisipasi gangguan suplai, pemerintah telah menyiapkan langkah diversifikasi impor energi dari luar kawasan Timur Tengah. Salah satu strategi dilakukan melalui kerja sama antara PT Pertamina (Persero) dengan sejumlah perusahaan migas asal Amerika Serikat.
Airlangga menyebut, nota kesepahaman (MoU) telah dijalin dengan beberapa perusahaan energi global seperti Chevrondan ExxonMobil guna memastikan suplai alternatif tetap terjaga.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang.
Dampak ke Ekonomi dan BBM
Terkait potensi dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, Airlangga menegaskan bahwa semuanya sangat bergantung pada durasi dan intensitas konflik. Selain sektor energi, distribusi logistik dan pariwisata juga berpotensi terdampak apabila situasi berlarut-larut.
Ia mengakui, konflik berskala besar biasanya berimbas pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), seperti yang terjadi saat perang Rusia-Ukraina. Namun, tekanan harga masih bisa tertahan apabila suplai dari Amerika Serikat meningkat dan negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries menambah kapasitas produksi.
“Otomatis akan ada tekanan kenaikan, tetapi suplai dari Amerika bisa meningkat dan OPEC juga menambah kapasitas,” katanya.
IRGC Tutup Selat Hormuz
Di sisi lain, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz di tengah memanasnya situasi kawasan Timur Tengah. Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari menyatakan langkah tersebut diambil sebagai respons atas agresi terhadap Iran.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran berupa peluncuran rudal ke wilayah Israel dan sejumlah target militer AS di kawasan.
Perkembangan terbaru, IRGC mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker milik AS dan Inggris di Teluk dan Selat Hormuz. Klaim tersebut disampaikan melalui media resmi mereka, Sepah News.
Pemerintah Indonesia menyatakan akan terus memantau dinamika konflik global tersebut guna menyiapkan penyesuaian kebijakan apabila diperlukan, terutama untuk menjaga stabilitas harga energi dan ketahanan ekonomi nasional.
(CHY/CTA)