NUSAAKSARA.COM — Aldeguer, yang keluar sebagai pemenang pada seri Mandalika 2025, menghadapi tantangan berat untuk mencetak sejarah baru. Data terkini menunjukkan bahwa rider asal Spanyol itu kesulitan menemukan konsistensi kecepatan sepanjang musim berjalan. Prestasi terbaiknya sejauh ini hanya finis di posisi kedua saat balapan di Catalunya.
Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi pembalap lain untuk memutus rantai kegagalan juara bertahan. Jika Aldeguer gagal menang lagi, maka rekor "raja sekali pakai" di Mandalika akan tetap utuh hingga edisi berikutnya.
Fenomena Unik Tiga Kelas Balap
Keistimewaan Sirkuit Mandalika tidak hanya terjadi di kelas utama. Fenomena serupa juga menghantui kelas Moto2 dan Moto3, di mana setiap musim selalu melahirkan juara baru tanpa ada yang mampu melakukan back-to-back victory.
Di kelas Moto3, rotasi juara berlangsung ketat sejak debut sirkuit ini. Dennis Foggia menjadi pembalap pertama yang mencicipi podium tertinggi pada 2022. Ia kemudian digantikan oleh Diogo Moreira (2023), David Alonso (2024), dan Jose Antonio Rueda (2025). Pola yang sama persis terlihat di kelas Moto2.
- Moto2: Somkiat Chantra (2022) -> Pedro Acosta (2023) -> Aron Canet (2024) -> Diogo M Moreira (2025).
- Moto3: Dennis Foggia (2022) -> Diogo Moreira (2023) -> David Alonso (2024) -> Jose Antonio Rueda (2025).
Satu-satunya anomali dalam daftar tersebut adalah Diogo Moreira. Pembalap ini tercatat pernah dua kali berdiri di puncak podium tertinggi. Namun, keberhasilannya diraih di dua kelas berbeda—Moto3 pada 2023 dan Moto2 pada 2025—sehingga secara teknis tidak melanggar aturan "juara beruntun" di satu kategori yang sama.
Tantangan Konsistensi di Lintasan Baru
Absennya juara beruntun di Mandalika sering dikaitkan dengan karakteristik trek yang masih relatif baru bagi banyak tim pabrikan. Adaptasi ban, perubahan cuaca tropis yang ekstrem, serta layout sirkuit yang menuntut manajemen energi tinggi membuat strategi tim berubah drastis dari tahun ke tahun.
Bagi Miguel Oliveira (2022), Pecco Bagnaia (2023), dan Jorge Martin (2024), mereka semua harus puas melihat takhta mereka diambil alih oleh rival di musim berikutnya. Kini, sorotan tertuju pada apakah Aldeguer mampu mematahkan mitos tersebut atau justru menambah panjang daftar korban tren juara sekali pakai di Indonesia.