NUSAAKSARA.COM — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan enam pemenang lelang Wilayah Kerja minyak dan gas bumi Tahap I 2026 dengan total komitmen pasti tiga tahun pertama mencapai US$ 141,512 juta. Natuna D-Alpha, blok gas raksasa di lepas pantai Kepulauan Riau, dimenangkan PT Nations Petroleum melalui penawaran langsung. Perusahaan di bawah Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo itu menyanggupi komitmen US$ 103,309 juta atau setara Rp 1,83 triliun.
Keenam WK tersebut terdiri dari dua blok lelang penawaran langsung, yakni Sapukala dan Natuna D-Alpha, serta empat WK lelang reguler area studi ABT 2025: Bengara II, Pesut Mahakam, Puri, dan Rupat.
Natuna D-Alpha dan Komitmen Nations Petroleum
PT Nations Petroleum memenangkan WK Natuna D-Alpha dengan komitmen pasti tiga tahun pertama US$ 103.309.000 atau setara Rp 1,83 triliun (asumsi kurs Rp 17.730 per US$). Bonus tanda tangan yang disetorkan perusahaan mencapai US$ 200.000 atau sekitar Rp 3,55 miliar.
Mengutip situs resmi Arsari Group, Nations Petroleum merupakan perusahaan migas yang berinvestasi dalam teknologi ekstraksi dan pemulihan mutakhir. Tujuannya memaksimalkan efisiensi, mengoptimalkan sumber daya, dan berkontribusi pada masa depan energi yang lebih terjamin.
Sejarah Panjang Blok Gas Raksasa di Lepas Pantai Natuna
Natuna D-Alpha menyimpan perkiraan sumber daya gas lebih dari 200 triliun kaki kubik. Kandungan itu menjadikannya salah satu cadangan gas terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia.
Operator asal Italia, AGIP, pertama kali menemukan kandungan gas di Lapangan AL pada 1973. Wilayah itu kemudian dikenal sebagai Natuna D-Alpha. ExxonMobil masuk pada 1980 dan memegang hak pengelolaan, tetapi tingginya kandungan karbon dioksida (CO2) membuat pengembangan komersial tak kunjung terwujud. Pemerintah menghentikan kontrak ExxonMobil pada 2007.
Setahun berselang, pengelolaan diserahkan kepada PT Pertamina (Persero). Pertamina lalu menggandeng sejumlah perusahaan migas internasional. ExxonMobil kembali masuk bersama Pertamina dan Total, dan lapangan ini berganti nama menjadi East Natuna atau Natuna Timur.
Petronas sempat bergabung dalam konsorsium sebelum posisinya digantikan PTT Exploration and Production (PTT EP) asal Thailand pada 2012. Meski melibatkan nama-nama besar, konsorsium itu bubar pada 2017 tanpa hasil komersial.
Pertamina kembali ditugaskan melanjutkan pengembangan East Natuna. Namun proyek tetap mandek. Pada 2022, Pertamina mengembalikan pengelolaan proyek kepada pemerintah karena membutuhkan investasi sangat besar, terutama untuk menangani kandungan CO2 yang tinggi.
Pemecahan Blok dan Skema Lelang Baru
Setelah pengelolaan dikembalikan, Kementerian ESDM menyiapkan skema baru. Pemerintah memecah Blok Natuna menjadi tiga wilayah kerja migas: Arwana-Barakuda, Natuna D-Alpha, dan Paus.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM yang saat itu dijabat Tutuka Ariadji mengatakan ketiga wilayah tersebut akan ditawarkan melalui mekanisme lelang internasional secara terbuka.
"Pertengahan Mei pas ada IPA (Indonesian Petroleum Association Conference & Exhibition) itu kita umumkan di situ akan sangat bagus, kita kan perlu cari dulu peminat Natuna ini, kalau kita umumkan harus tahu peminatnya, sekian untuk Natuna," ungkap Tutuka dalam konferensi pers, Senin (30/1/2023).
Pemecahan blok menjadi bagian dari strategi pemerintah menarik kembali minat investor terhadap kawasan berpotensi sumber daya jumbo tersebut. Dengan penetapan pemenang lelang Tahap I 2026, Natuna D-Alpha kini berada di tangan Nations Petroleum, perusahaan yang terafiliasi dengan Arsari Group.