NUSAAKSARA.COM — Setelah bertahun-tahun menjadi salah satu pemain utama di pasar ponsel lipat, Samsung kini menghadapi tantangan baru dari Apple.
Selama tujuh tahun, Samsung Electronics mengembangkan Galaxy Z Fold dari perangkat eksperimental menjadi lini ponsel lipat yang semakin matang. Namun, mulai Oktober mendatang, Galaxy Z Fold8 akan berhadapan langsung dengan iPhone Duo, ponsel lipat bergaya buku besutan Apple.
Yang membuat persaingan ini menarik bukan hanya teknologi, tetapi juga harga.
Selisih harga di AS hanya US$100
Apple mengejutkan pasar ketika menetapkan harga iPhone Duo 256 GB sebesar US$1.999. Harga tersebut berada jauh di bawah perkiraan sebelum peluncuran yang sempat mencapai sekitar US$2.500.
Sebagai pembanding, Galaxy Z Fold8 diluncurkan dengan harga US$1.899,99 di Amerika Serikat.
Artinya, konsumen AS yang mempertimbangkan ponsel lipat dengan harga sekitar US$2.000 hanya menghadapi selisih sekitar US$100 antara kedua perangkat.
Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, menilai selisih tersebut relatif kecil bagi konsumen yang memang sudah siap mengeluarkan dana besar untuk sebuah ponsel.
“Bagi seseorang yang bersedia mengeluarkan dana 1.800 dolar AS, selisih harga 100 dolar AS bukanlah hal yang signifikan,” kata Popal.
Namun, persaingan tersebut tidak serta-merta menghapus keunggulan yang dibangun Samsung selama delapan generasi seri Fold.
Justru, pengalaman panjang Samsung di teknologi layar lipat kini akan diuji oleh kemampuan Apple menjangkau konsumen premium.
Samsung unggul dalam pengalaman ponsel lipat
Galaxy Z Fold8 hadir sebagai perangkat yang relatif matang dalam sejumlah aspek.
Dengan bobot 201 gram, Fold8 disebut 53 gram lebih ringan dibandingkan iPhone Duo yang memiliki bobot sekitar 254 gram.
Samsung juga telah bertahun-tahun mengembangkan engsel, layar lipat, serta fitur multitasking yang menjadi bagian penting dari pengalaman menggunakan perangkat berlayar besar.
Sejumlah fitur yang diperkenalkan Apple sebagai hal baru di iPhone sebenarnya telah lebih dahulu digunakan Samsung pada lini Galaxy Fold.
Samsung, misalnya, telah lama memanfaatkan layar luar sebagai camera preview, mengembangkan antarmuka yang menyesuaikan posisi lipatan melalui Flex Mode, serta bereksperimen dengan dukungan stylus dan kamera di bawah layar pada generasi sebelumnya.
Namun, ada satu hal yang belum bisa dibandingkan secara penuh.
iPhone Duo baru akan tersedia bagi konsumen pada 23 Oktober mendatang. Artinya, daya tahan jangka panjang dan pengalaman penggunaan perangkat lunaknya belum benar-benar teruji dalam penggunaan sehari-hari secara luas.
Apple membawa kekuatan ekosistem premium
Analis Teknologi Samsung Securities, Lee Jong Wook, melihat pengalaman Samsung di perangkat lipat dan kekuatan Apple di segmen premium sebagai dua keunggulan yang berbeda.
“Samsung lebih memahami produk layar lipat. Apple lebih memahami konsumen segmen premium,” ujar Lee.
Menurutnya, bobot Fold8 yang lebih ringan serta penyempurnaan perangkat keras selama bertahun-tahun merupakan keunggulan yang nyata.
Namun, pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana konsumen mengambil keputusan ketika kedua perangkat memiliki harga yang berdekatan.
Apakah mereka akan membandingkan bobot, engsel, kamera, multitasking, dan fitur satu per satu? Atau memilih perangkat iPhone premium yang sudah terintegrasi dengan ekosistem yang selama ini mereka gunakan?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan karena Apple memiliki posisi kuat di pasar ponsel premium.
Pasar premium menjadi medan perebutan
Menurut Counterpoint Research, ponsel pintar premium menyumbang 29 persen dari total penjualan global pada semester pertama, meningkat dari 20 persen empat tahun sebelumnya.
Dalam segmen tersebut, Apple menguasai sekitar 65 persen pangsa pasar, sedangkan Samsung berada di angka 19 persen.
Sementara itu, survei global IDC menunjukkan lebih dari 32 persen konsumen yang disurvei menyatakan mereka “pasti” akan membeli ponsel lipat apabila Apple memproduksinya.
Lee menilai sasaran awal Apple kemungkinan bukan semata-mata pengguna ponsel premium secara umum.
Apple juga dapat mengarahkan pengguna iPhone kelas atas, khususnya pemilik iPhone Pro Max, untuk berpindah ke format lipat tanpa meninggalkan ekosistem Apple.
“Tujuan awal Apple mungkin bukan untuk merebut pengguna ponsel pintar berpenghasilan tinggi secara umum. Melainkan untuk mengalihkan pelanggan mereka sendiri dari iPhone Pro Max ke model Duo,” papar Lee.
Samsung masih punya senjata harga
Samsung tetap memiliki ruang untuk berkompetisi melalui harga.
Galaxy Z Fold8 telah ditawarkan di bawah harga peluncuran awalnya melalui sejumlah kanal penjualan di AS. Program tukar tambah dan promosi operator juga berpotensi membuat biaya efektif perangkat menjadi lebih rendah.
Namun, keunggulan tersebut belum tentu cukup untuk mendorong pengguna iPhone berpindah ekosistem.
Di sinilah persaingan antara kedua perusahaan menjadi lebih kompleks daripada sekadar membandingkan spesifikasi dan harga.
Korea Selatan menjadi medan berbeda
Jika pasar AS menjadi arena pertarungan langsung yang lebih terbuka, kondisi di Korea Selatan berbeda.
Samsung memiliki basis pengguna domestik yang besar, pengalaman panjang dengan lini Fold, sekaligus keunggulan harga yang cukup lebar.
Galaxy Z Fold8 dibanderol mulai sekitar 2,28 juta won di Korea, sedangkan iPhone Duo dimulai dari 3,29 juta won. Selisihnya mencapai lebih dari 1 juta won.
Saat peluncuran Fold8 pada Juli lalu, Pimpinan Samsung Electronics Roh Tae-moon mengatakan perusahaan ingin menawarkan harga yang kompetitif kepada konsumen Korea.
Model standar Fold8 kemudian menyumbang sekitar 70 persen dari 1,44 juta pesanan awal seri Z8 di Korea.
Seorang pejabat industri telekomunikasi Korea menilai tantangan Apple di pasar domestik Samsung akan lebih besar karena konsumen harus membayar tambahan lebih dari 1 juta won untuk mendapatkan format ponsel lipat.
Popal menyebut kondisi tersebut memberikan Samsung posisi yang berbeda di pasar domestik. Namun, AS tetap menjadi pasar penting dalam persaingan global.
Berdasarkan data IDC, Korea menyumbang kurang dari 2 persen pengiriman ponsel lipat global pada semester pertama, sedangkan AS menyumbang sekitar 10 persen.
“Apple akan menjadi pesaing terberat Samsung di AS, sementara di Korea, Samsung akan memiliki keunggulan sebagai tuan rumah serta basis konsumen setia lokal yang besar,” kata Popal.
Bukan soal siapa yang mau membeli ponsel US$2.000
Persaingan Fold8 dan iPhone Duo pada akhirnya memperlihatkan bahwa pasar ponsel lipat premium bukanlah pertarungan untuk konsumen massal.
Pertanyaannya bukan semata-mata apakah konsumen bersedia membayar US$2.000 untuk sebuah ponsel, melainkan seberapa besar kelompok konsumen yang memang menginginkan teknologi tersebut dan memiliki kemampuan untuk membelinya.
Lee dari Samsung Securities mengatakan Apple maupun Samsung tidak membutuhkan separuh pengguna smartphone dunia untuk membeli perangkat seharga US$2.000.
Kedua perusahaan hanya membutuhkan basis konsumen berpenghasilan tinggi dan pengguna teknologi tingkat lanjut yang cukup besar agar bisnis ponsel lipat premium menjadi signifikan.
Dengan iPhone Duo, Apple kini memasuki arena yang selama bertahun-tahun dibangun Samsung. Bagi Samsung, tantangannya bukan lagi sekadar membuktikan bahwa mereka memahami teknologi layar lipat, tetapi mempertahankan daya tariknya ketika pemain dengan ekosistem premium yang sangat kuat menawarkan pilihan dengan harga yang hampir sama.
(FITRI WULANDARI/CHY)