Rudal Houthi Serang Riyadh, IHSG Melemah 0,4% dan Rupiah Anjlok ke Rp 17.800

Rudal Houthi Serang Riyadh, IHSG Melemah 0,4% dan Rupiah Anjlok ke Rp 17.800
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,4% ke level 6.415 pada perdagangan Senin (21/09) pukul 10.03 WIB, sementara nilai tukar rupiah ambles ke Rp 17.800 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu serangan rudal Houthi ke Riyadh yang memanaskan ketegangan Timur Tengah. Tekanan datang bersamaan dengan lonjakan inflasi global dan era suku bunga tinggi yang masih berlanjut.

Serangan rudal Houthi ke Riyadh menjadi pemicu utama gelombang aksi jual di pasar keuangan dalam negeri. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memaksa investor memindahkan dana ke aset aman, meninggalkan pasar negara berkembang termasuk Indonesia. IHSG tertekan ke 6.415 dan rupiah menembus Rp 17.800 per dolar AS pada sesi pagi.

Tekanan Datang dari Dua Arah

Pelaku pasar menghadapi kombinasi sentimen yang saling memperkuat. Konflik Timur Tengah menambah risiko geopolitik, sementara lonjakan inflasi global memaksa bank sentral di berbagai negara mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi itu membuat imbal hasil aset berdenominasi dolar AS tetap menarik, sehingga aliran modal keluar dari pasar domestik sulit dibendung. Rupiah pun menjadi salah satu mata uang yang paling terpukul.

Harga Minyak dan Batu Bara Masih Tinggi

Di pasar komoditas, harga minyak mentah dunia justru melemah meski bertahan di rentang USD 100 per barel. Pelemahan ini tidak serta-merta meredakan kekhawatiran karena level harga masih tergolong tinggi bagi negara importir minyak seperti Indonesia.

Harga batu bara juga masih bertahan di kisaran USD 140 per ton akibat lonjakan permintaan dunia. Bagi Indonesia, harga komoditas yang tinggi sebenarnya bisa menjadi penopang ekspor, tetapi dampaknya belum cukup menahan tekanan di pasar keuangan.

Siapa yang Paling Merasakan Dampaknya

Investor ritel di pasar saham menghadapi penurunan nilai portofolio, terutama yang menempatkan dana di saham berkapitalisasi besar. Sementara itu, importir dan pelaku usaha yang membutuhkan dolar AS harus menanggung biaya lebih mahal dengan kurs menembus Rp 17.800.

Bagi masyarakat umum, pelemahan rupiah berpotensi merembet ke harga barang impor dan bahan baku industri. Tekanan ini bisa terasa pada harga pangan olahan, elektronik, hingga komponen kendaraan dalam beberapa waktu ke depan.

Yang Perlu Dicermati Selanjutnya

Pergerakan IHSG dan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga global. Jika ketegangan mereda, tekanan terhadap pasar domestik berpeluang berkurang.

Sebaliknya, eskalasi konflik atau kejutan data inflasi baru bisa memperpanjang tekanan. Pelaku pasar keuangan kini menempatkan risiko geopolitik sebagai faktor utama yang menentukan arah investasi jangka pendek.

Pelemahan IHSG ke 6.415 dan rupiah ke Rp 17.800 menunjukkan pasar domestik masih rentan terhadap guncangan eksternal. Selama ketegangan Timur Tengah dan era suku bunga tinggi berlanjut, investor perlu mencermati perkembangan global sebelum mengambil keputusan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index