NUSAAKSARA.COM — Presiden Prabowo Subianto meminta kelompok Masyarakat Peduli Api dihidupkan kembali sebagai garda terdepan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Arahan itu disampaikan dalam pertemuan dengan para ilmuwan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 24 September. Pendekatan berbasis desa dinilai lebih cepat dan efisien karena warga berada paling dekat dengan sumber api.
Mengapa Warga Lokal Lebih Cepat Merespons Api
Hasil kajian para ilmuwan menunjukkan penanganan awal oleh masyarakat setempat jauh lebih efektif dibanding menunggu bantuan dari luar daerah. Respons cepat itu menjadi pertimbangan utama pemerintah mengubah pendekatan pencegahan karhutla.
"Penanganan berbasis desa, masyarakat peduli api itu dihidupkan kembali dengan dukungan tertentu," kata Brian.
Ia menambahkan bahwa kecepatan respons menjadi faktor pembeda. "Yang lebih efektif, lebih efisien, lebih cepat untuk penanganan kebakaran itu justru berasal dari masyarakat yang ada di lokasi tersebut," ujarnya.
Teknologi Pompa Cepat dan Hitungan Biaya Udara-Darat
Pendekatan berbasis desa akan diperkuat dengan teknologi. Para ilmuwan memaparkan sejumlah hasil penelitian, termasuk penggunaan pompa yang dapat dibangun dengan cepat. Kajian itu juga membandingkan biaya penanganan kebakaran melalui jalur darat dan udara.
Perbandingan biaya tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan pemerintah dalam menentukan strategi penanganan karhutla ke depan, terutama di kawasan gambut yang rentan terbakar pada musim kemarau.
Riset Ilmuwan Masuk Rencana Kerja Badan Gambut dan Mangrove
Presiden Prabowo meminta hasil penelitian para ilmuwan tidak berhenti di lingkungan kampus. Arahan itu menekankan agar temuan riset dijadikan rujukan kebijakan, bukan sekadar publikasi akademik.
Pemerintah akan memasukkan hasil riset tersebut ke dalam rencana kerja Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional. Badan itu telah disetujui Presiden setelah direkomendasikan para ilmuwan.
Brian menyatakan ilmuwan akan tetap dilibatkan untuk mendukung badan baru tersebut. Peran mereka mencakup posisi sebagai pakar maupun sumber rujukan terhadap penelitian yang telah dilakukan.
Desa sebagai Basis Pencegahan
Desa disebut akan menjadi salah satu basis utama pencegahan kebakaran lahan gambut. Warga di lokasi dinilai lebih cepat merespons api dibanding menunggu penanganan dari luar daerah.
Penguatan Masyarakat Peduli Api menjadi bagian dari strategi itu. Kelompok ini diharapkan menjadi lapisan pertama yang mendeteksi dan menangani titik api sebelum meluas.
Pemerintah belum merinci bentuk dukungan tertentu yang akan diberikan kepada kelompok masyarakat tersebut. Namun arah kebijakan sudah jelas: pencegahan dimulai dari tingkat desa, diperkuat teknologi, dan dirujuk dari hasil riset para ilmuwan.