NUSAAKSARA.COM — Gempa magnitudo 6,1 yang mengguncang Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, merusak 95 rumah warga dan belasan fasilitas umum. Seorang lansia berusia 73 tahun di Kodi Utara meninggal dunia akibat shock saat guncangan berlangsung. Pemerintah daerah telah mengaktifkan pos komando untuk memantau dampak di dua kabupaten terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 95 unit rumah rusak akibat gempa magnitudo 6,1 yang mengguncang Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Pendataan pada Senin (5/10) pukul 00.15 WIB merinci kerusakan menjadi 1 unit rusak berat, 12 unit rusak sedang, dan 82 unit rusak ringan.
Seluruh rumah terdampak teridentifikasi berada di Kabupaten Sumba Barat Daya. "Data dampak tersebut masih terus dimutakhirkan oleh BPBD di kedua kabupaten," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, Senin.
Fasilitas Umum Terdampak di Dua Kabupaten
Selain permukiman, sejumlah fasilitas umum di wilayah tersebut mengalami kerusakan. Tempat ibadah tercatat 5 unit rusak ringan, fasilitas pendidikan 3 unit rusak ringan dan 1 unit rusak sedang, fasilitas kesehatan 6 unit rusak ringan, serta rumah dinas 3 unit rusak ringan.
Di Kabupaten Sumba Barat, dampak gempa mencakup 3 rumah dinas dan 2 bangunan koperasi yang mengalami rusak ringan. Tidak ada laporan kerusakan berat di wilayah ini.
Korban Jiwa dan Guncangan Selama Satu Menit
Gempa mengguncang Sumba Barat Daya pada Minggu (4/10) pukul 06.55 Wita. Guncangan dirasakan kuat selama kurang lebih satu menit di Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Barat, hingga Kabupaten Manggarai Barat.
Seorang lansia berusia 73 tahun di Kodi Utara meninggal dunia. "Satu orang dilaporkan meninggal dunia di wilayah Kodi Utara. Korban adalah seorang lansia yang meninggal karena shock atau kaget saat gempa terjadi," kata Kapolsek Kodi Utara AKP Bernadus Bili Kandi seperti dikutip dari Antara, Minggu.
Pos Komando dan Imbauan Waspada
Pemerintah daerah Sumba Barat Daya telah mengaktifkan pos komando untuk memantau kondisi pascagempa. BNPB meminta pemerintah daerah dan masyarakat tetap waspada karena waktu dan lokasi gempa bumi tidak dapat diprediksi.
"Sementara dalam menghadapi bahaya gempa bumi, masyarakat agar selalu waspada karena waktu dan lokasi kejadian gempa bumi tidak dapat diprediksi. BNPB meminta warga di wilayah yang diguncang gempa untuk memeriksa kondisi rumah sebelum kembali memasukinya," tutur Berton.
Warga diimbau memeriksa struktur bangunan sebelum kembali ke rumah masing-masing. Pendataan kerusakan masih berlangsung dan angka dampak berpotensi berubah seiring pemutakhiran data oleh BPBD di kedua kabupaten.