Warga Malaka Sari Pilah Sampah dari Rumah, Lolos 10 Finalis Benyamin S Award

Warga Malaka Sari Pilah Sampah dari Rumah, Lolos 10 Finalis Benyamin S Award
Ilustrasi Pilah Sampah. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Kelurahan Malaka Sari, Jakarta Timur, masuk sepuluh finalis Benyamin S Award berkat gerakan pemilahan sampah dari rumah yang berjalan sejak 2011. Warga setempat memisahkan sampah organik dan nonorganik, mengolah jelantah jadi sabun, dan menabung plastik di Bank Sampah ASRI. Festival Pilah dan Olah Sampah digelar untuk memasifkan kebiasaan itu.

Kelurahan Malaka Sari, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, menempatkan pengelolaan sampah sebagai urusan rumah tangga. Warga memilah sampah sejak dari dapur, jauh sebelum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan aturan wajib pilah sampah.

Kebiasaan itu mengantar Malaka Sari masuk daftar sepuluh finalis Benyamin S Award (BSA), penghargaan Pemprov DKI Jakarta bagi kelurahan yang membangun lingkungan bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Untuk memperkuat gerakan, kelurahan menggelar Festival Pilah dan Olah Sampah, Selasa (6/10).

Dapur Jadi Titik Awal Pemilahan

Esther, warga Malaka Sari, menyebut pemilahan sudah menjadi rutinitas harian. Sampah organik dan nonorganik dipisah sebelum masuk tong.

"Kita pilah, dapur udah dipisah sendiri," kata Esther.

Dampaknya terasa pada volume sampah yang dibuang. "Jadi itu (isi) tong sampah kita sudah sedikit karena udah kita pilah banget," ujarnya.

Sampah residu atau nonorganik yang telah dipilah diangkut petugas khusus. Sementara sampah organik diolah warga secara mandiri menjadi kompos.

Warga juga mengumpulkan minyak jelantah, bukan membuangnya. Jelantah diolah kembali menjadi sabun dan ditampilkan dalam festival.

Bank Sampah ASRI dan Berkah Menabung Plastik

Sampah nonorganik seperti plastik dikumpulkan di Bank Sampah ASRI. Konsepnya menyerupai tabungan: makin banyak sampah disetor, makin besar nilai rupiah yang didapat warga.

Esther merasakan langsung manfaatnya. "Yang terakhir Rp750 ribu," katanya.

Uang itu dipakai untuk jajan anak dan kebutuhan harian. Menabung sampah berubah jadi pemasukan tambahan bagi rumah tangga.

Warga lain, Sere, menuturkan pembentukan bank sampah bermula pada 2009. Setahun kemudian, wilayah setempat mengikuti perlombaan lingkungan yang memberi pelatihan dan mendorong partisipasi berbagai kelompok masyarakat.

Pada 2011, bank sampah dibangun mandiri dengan memanfaatkan barang seadanya dan sumbangan warga. Sejak itu pula kebiasaan memilah sampah dimulai.

Tak Kaget dengan Aturan Baru Pemprov DKI

Karena sudah berjalan lebih dari satu dekade, aturan baru Pemprov DKI Jakarta soal sampah tidak mengejutkan warga Malaka Sari.

"Dari 2011 itu warga kita udah biasa lah milah sampah. Emang belum 100 persen, ya. Karena udah tau kan efeknya apa gitu," kata Sere.

Kebijakan wajib memilah sampah disambut sebagai kelanjutan kebiasaan, bukan beban baru. Bank Sampah ASRI dan sistem pelestarian lingkungan pun berkembang menjadi keunggulan kelurahan ini.

Bagi Malaka Sari, BSA bukan sekadar lomba. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas kerja panjang warga mengelola sampah dari rumah, mengolah jelantah, dan menabung plastik demi lingkungan yang lebih bersih.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index