NUSAAKSARA.COM — Sebanyak 1.308,03 hektare lahan terbakar dalam 24 jam terakhir di enam provinsi, dengan 247 titik api masih aktif hingga Senin (19/10). Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan karakter tanah gambut membuat api bertahan lebih lama di bawah permukaan, sehingga penanganan di Kalimantan dan Sumatra menuntut metode berbeda dari kebakaran di tanah mineral.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat luas terbakar di enam provinsi mencapai 1.308,03 hektare per 24 jam terakhir. Luas yang masih akan dipadamkan 650,19 hektare. Titik panas terpantau di 5.499 lokasi, sementara titik api sebanyak 247 titik. Sebanyak 53.848 personel gabungan dikerahkan.
Enam provinsi yang masih dilanda karhutla adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Mengapa Tanah Gambut Membuat Api Bertahan Lama
Tito menjelaskan, wilayah Sumatra bagian timur dan Kalimantan memiliki tanah gambut. Jenis tanah itu menyimpan air dalam jumlah besar, tetapi juga menyulut persoalan saat terbakar.
"Nah, kalau sudah terbakar, tanah gambut ini beda dengan kebakaran di tanah mineral," ujar Tito.
Pada tanah mineral, api umumnya menjalar di permukaan dan lebih mudah dijangkau petugas. Di lahan gambut, api masuk ke lapisan bawah dan bertahan lama. Kondisi itu membuat penyemprotan di permukaan tidak cukup.
Dua Jalur Memasukkan Air ke Dalam Tanah
Menurut Tito, cara paling efektif adalah memasukkan air sebanyak mungkin ke dalam tanah. Ada dua jalur yang bisa ditempuh.
- Air dari udara, baik melalui hujan alami maupun hujan buatan lewat modifikasi cuaca atau cloud seeding.
- Air dari sumber permukaan seperti sungai, waduk, atau danau yang dialirkan ke titik kebakaran.
"Sebagai mantan Kapolri, ini pertama harus ada air dari udara, itu untuk hujan. Hujannya ada dua, hujan alami dan hujan buatan, cloud seeding, modifikasi cuaca," katanya.
Dua jalur itu punya keterbatasan. Modifikasi cuaca tidak bisa dijalankan tanpa benih awan. Sementara sumber air permukaan kerap jauh dari titik api atau kering saat kemarau.
Rekayasa Kimia Dipakai di Sumatera Selatan dan Kalimantan
Karena itu, pemerintah beralih ke rekayasa kimia atau chemical substances. Metode itu disebut sudah diterapkan di beberapa titik api di Kalimantan dan Sumatra.
"Saya lihat Sumatera Selatan, dengan bahan itu, dengan jumlah air yang kecil, yang lebih sedikit, dia mampu untuk mendinginkan dan meredamkan lahan gambut," imbuh Tito.
Rekayasa kimia dinilai lebih hemat air. Bahan tersebut membantu menurunkan suhu dan meredam bara di lapisan gambut, sehingga kebutuhan air untuk penyemprotan berkurang.
Modifikasi Cuaca di Palangka Raya Berhasil
Tito menyampaikan modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah membuahkan hasil. Hujan turun di Palangka Raya dan sekitarnya.
"Khusus di Kalimantan kita tahu bahwa modifikasi cuaca berhasil dilakukan sehingga turun hujan ya, di Kalimantan Tengah, Palangka Raya dan sekitarnya," ungkapnya.
Keberhasilan itu tetap bergantung pada ketersediaan benih awan. Tanpa awan yang memadai, penyemaian tidak bisa dilakukan meski operasi sudah disiapkan.
Beban Personel dan Titik Api yang Belum Tertangani
Dengan 247 titik api masih aktif, operasi pemadaman darat dan udara berjalan bersamaan. Puluhan ribu personel dari berbagai instansi dikerahkan di enam provinsi.
Lahan gambut yang terbakar menuntut waktu pemadaman lebih panjang. Api yang sudah padam di permukaan bisa menyala lagi jika lapisan bawah belum benar-benar dingin.
Pemerintah belum memerinci berapa tambahan personel dan anggaran yang disiapkan jika titik api meluas. Rapat gabungan di Kemenko Polkam diarahkan menyiapkan langkah lanjutan untuk menjaga agar sebaran api tidak melebar ke provinsi lain.