Anggota DPR Iran Serukan Pembuatan Bom Nuklir, Klaim Fatwa Mojtaba Akan Berbeda

Anggota DPR Iran Serukan Pembuatan Bom Nuklir, Klaim Fatwa Mojtaba Akan Berbeda
Anggota parlemen Iran Ahmad Naderi menyerukan pembuatan bom nuklir dalam pernyataannya.

NUSAAKSARA.COM — Seorang anggota parlemen Iran menyerukan pembuatan bom nuklir dan mengklaim Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei tidak akan melarangnya. Seruan Ahmad Naderi muncul meski sejumlah pejabat tinggi Iran berulang kali menegaskan Teheran tidak berupaya memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu menjadi sinyal kontradiktif di tengah tekanan internasional soal kapasitas pengayaan uranium Iran.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Iran, Ahmad Naderi, menyerukan negaranya membuat bom nuklir. Naderi menilai senjata tersebut menjadi pencegahan militer paling ampuh bagi Teheran.

Dalam pernyataannya, Naderi mengklaim Mojtaba Khamenei tidak akan melarang pembuatan bom nuklir. Ia membandingkan sikap Mojtaba dengan almarhum Ayatollah Ali Khamenei, yang mengeluarkan fatwa mengharamkan Iran membuat senjata nuklir.

"Berdasarkan perilaku Mojtaba Khamenei, pemahaman saya adalah bahwa fatwanya akan berbeda," ujar Naderi, sebagaimana dikutip International Business Times.

Fatwa Lama Ali Khamenei sebagai Rujukan

Fatwa Ayatollah Ali Khamenei yang mengharamkan senjata nuklir selama ini menjadi salah satu dasar resmi posisi Iran di forum internasional. Fatwa itu kerap dirujuk Teheran untuk membantah tuduhan bahwa program nuklirnya mengarah pada pembuatan bom.

Naderi menilai fatwa tersebut bisa berubah di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei. Namun belum ada pernyataan resmi dari kantor Pemimpin Tertinggi soal sikap Mojtaba terhadap gagasan pengembangan senjata nuklir.

Sikap resmi Teheran sejauh ini tetap menyatakan tidak berupaya memiliki senjata nuklir. Sejumlah pejabat tinggi Iran berulang kali menegaskan posisi itu di berbagai forum.

Klaim Naderi dan Posisi Resmi Teheran yang Berseberangan

Seruan Naderi tidak mewakili posisi resmi pemerintah Iran. Anggota parlemen di Iran memang kerap menyuarakan pandangan yang lebih keras dari sikap eksekutif, terutama soal program nuklir.

Pernyataan itu tetap menjadi sorotan karena muncul dari parlemen, bukan dari individu di luar struktur negara. Selama ini garis resmi Teheran menekankan program nuklir untuk tujuan damai.

Belum jelas apakah Naderi berbicara atas nama faksi tertentu di parlemen. Tidak ada keterangan resmi soal dukungan anggota DPR Iran lain terhadap seruannya.

Respons AS: Uji Komitmen Lewat Langkah Nyata

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menanggapi pernyataan kontradiktif dari Iran awal bulan ini. Menurut Vance, Iran harus membuktikan komitmennya lewat tindakan, bukan hanya pernyataan.

"Jika Iran ingin menunjukkan komitmen untuk tidak membuat senjata nuklir, mereka harus melakukan langkah nyata terkait kapasitas pengayaan nuklir mereka," kata Vance.

Pernyataan Vance menyoroti inti perselisihan: kapasitas pengayaan uranium Iran. Negara-negara Barat memandang tingkat pengayaan tertentu sebagai indikator potensi pengembangan senjata, sementara Iran menyebut programnya untuk keperluan sipil.

Yang Ditunggu: Sikap Resmi Mojtaba Khamenei

Pernyataan Naderi menempatkan perhatian pada satu hal yang belum terjawab: sikap resmi Mojtaba Khamenei. Klaim bahwa fatwa akan berbeda masih sebatas tafsir seorang anggota parlemen, bukan keputusan lembaga tertinggi Iran.

Selama kantor Pemimpin Tertinggi tidak mengeluarkan pernyataan, posisi resmi Iran masih mengacu pada fatwa Ali Khamenei yang mengharamkan senjata nuklir. Pernyataan pejabat tinggi Iran yang berulang kali menegaskan Teheran tidak mengejar bom juga masih menjadi garis resmi.

Yang ditunggu berikutnya adalah apakah Teheran memberi klarifikasi resmi atas seruan Naderi. Langkah nyata soal pengayaan nuklir, seperti diserukan Vance, akan menjadi ukuran yang dipakai AS dan negara-negara Barat untuk menilai komitmen Iran.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index