Lula da Silva Menangi Pilpres Brasil 51,75 Persen, Kalahkan Flavio Bolsonaro

Lula da Silva Menangi Pilpres Brasil 51,75 Persen, Kalahkan Flavio Bolsonaro
Luiz Inacio Lula da Silva meraih 51,75 persen suara dan memenangi putaran kedua Pilpres Brasil.

NUSAAKSARA.COM — Luiz Inacio Lula da Silva memenangi putaran kedua Pemilu Brasil dengan 51,75 persen suara, mengalahkan senator sayap kanan Flavio Bolsonaro yang meraih 48,25 persen. Kemenangan dramatis ini mengamankan masa jabatan keempat Lula yang tidak dijalani secara berturut-turut.

Hasil resmi tersebut diumumkan setelah penghitungan suara yang sempat diwarnai ketegangan. Kemenangan Lula mematahkan prediksi sejumlah lembaga survei yang sebelumnya menempatkan Flavio sebagai favorit.

Kemenangan Dramatis Setelah Tertinggal di Putaran Pertama

Flavio Bolsonaro sempat mengungguli Lula pada putaran pertama. Senator sayap kanan itu juga merasa yakin akan menang pada hari pemungutan suara karena keunggulannya dalam berbagai jajak pendapat.

Kepercayaan diri Flavio runtuh setelah hasil penghitungan resmi menunjukkan Lula unggul lebih dari tiga persen. Kemenangan Lula sekaligus mematahkan gelombang konservatif yang melanda sejumlah negara Amerika Latin.

Argentina, Chili, Kolombia, dan Peru tercatat beralih ke haluan kanan dengan dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Brasil menjadi negara besar pertama di kawasan yang membendung tren tersebut.

Putusan Mahkamah Agung di Menit Terakhir Picu Kekacauan

Pemilu Brasil diwarnai kekacauan menyusul putusan Mahkamah Agung yang memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam. Keputusan diambil di saat-saat terakhir atas permintaan Lula.

Lula melaporkan layanan bus di berbagai kota dihentikan sehingga menghalangi warga memberikan suara. Flavio juga sempat meminta perpanjangan waktu di beberapa wilayah akibat hujan deras.

Kubu Flavio mengecam keras keputusan perpanjangan waktu yang berlaku secara nasional tersebut. Ketegangan antar pendukung kedua kubu mewarnai penghitungan suara.

"Entah kita menang, atau kita menang. Anggap saja ini peringatan," tulis Nikolas Ferreira, legislator pendukung Bolsonaro, di platform X saat penghitungan suara berlangsung.

Perpecahan Mendalam di Negara Berpenduduk 200 Juta Jiwa

Kampanye sengit mengungkap perpecahan mendalam di Brasil, negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa. Skandal dan saling lempar tuduhan mewarnai hampir seluruh masa kampanye.

Sejumlah warga menilai perpanjangan waktu pemungutan suara sebagai preseden buruk. Aurelio Junior (45), seorang dokter gigi, menyebut kejadian itu memalukan.

"Ini memalukan. Belum pernah ada kejadian seperti ini di Brasil, dan sekarang mereka malah mencetuskan ide untuk memperpanjang waktu pemilihan selama dua jam," ujar Aurelio Junior.

Pendukung Lula mengambil sudut pandang berbeda. Jacqueline Maria Lima de Franca (34), pemilik usaha di Rio de Janeiro, menilai perpanjangan waktu sebagai langkah yang wajar.

"Sangat wajar... setiap orang seharusnya memiliki hak untuk memilih, dan hak itu selama ini terabaikan," kata Jacqueline Maria Lima de Franca.

Tantangan Berat Menanti Pemerintahan Keempat Lula

Kemenangan ini menandai masa jabatan keempat Lula yang tidak dijalani secara berturut-turut. Ia kembali memimpin negara setelah sebelumnya menjabat pada periode 2003-2010.

Lula kini menghadapi tugas berat merangkul kembali pendukung Flavio yang kecewa. Perpecahan politik di Brasil diperkirakan masih membayangi stabilitas pemerintahan dalam beberapa tahun ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index