Ramadan di Gaza: Berpuasa di Tengah Puing dan Krisis

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:00:00 WIB
FOTO: ilustrasi generate AI.

NUSA AKSARA — Bulan suci Ramadan kembali datang, namun bagi warga Gaza, suasananya masih dipenuhi bayang-bayang krisis. Seperti tahun sebelumnya, masyarakat di wilayah tersebut harus mempersiapkan kebutuhan puasa di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan lingkungan yang belum pulih dari kerusakan akibat konflik.

Dikutip dari laporan Euronews (18/2/2026), warga Gaza terlihat mendatangi pasar pada Selasa lalu untuk membeli kebutuhan Ramadan. Aktivitas jual beli berlangsung di kios-kios sederhana yang berdiri di antara bangunan rusak dan jalanan yang masih dipenuhi puing.

Para pedagang menjajakan roti, kacang-kacangan, serta buah-buahan kering—bahan makanan yang umum dikonsumsi saat sahur dan berbuka. Meski aktivitas pasar tetap berjalan, suasananya jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ramadan di Tengah Luka yang Belum Pulih

Bagi banyak keluarga, Ramadan kali ini terasa lebih berat. Sejumlah warga mengungkapkan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok, terbatasnya uang tunai, serta kerusakan infrastruktur membuat persiapan ibadah menjadi penuh tantangan.

“Kami tetap mencoba menyiapkan yang kami bisa, meski kondisi sangat sulit,” ujar salah satu warga yang ditemui saat berbelanja di pasar pinggir jalan.

Pemandangan orang-orang berjalan di antara reruntuhan sambil membawa belanjaan sederhana menjadi potret keseharian yang menyentuh. Bagi sebagian besar warga, Ramadan bukan lagi soal hidangan melimpah, melainkan tentang bertahan dan menjaga harapan.

Gencatan Senjata yang Rapuh

Ramadan tahun ini berlangsung beberapa bulan setelah diberlakukannya gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada Oktober 2025. Meski konflik bersenjata mereda, dampak yang ditinggalkan masih sangat terasa.

Banyak kawasan yang belum sepenuhnya pulih, sementara aktivitas ekonomi belum kembali normal. Hal ini membuat sebagian besar warga harus beradaptasi dengan situasi yang penuh keterbatasan.

Di tengah kondisi tersebut, pasar tetap menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk mempertahankan rutinitas dan tradisi menjelang Ramadan.

Bertahan dengan Cara Sederhana

Meski serba terbatas, semangat menjalani Ramadan tetap terasa. Warga tetap berusaha menyiapkan kebutuhan dasar untuk sahur dan berbuka, meski dalam porsi yang jauh lebih sederhana dibanding masa lalu.

Bagi mereka, Ramadan bukan hanya soal makanan atau tradisi, tetapi juga tentang kekuatan untuk tetap menjalani kehidupan, menjaga kebersamaan, dan mempertahankan harapan di tengah keadaan yang belum pasti.

(Fitri Wulandari / CHY)

Tags

Terkini