Filsuf Komunikasi Modern Jürgen Habermas Meninggal di Usia 96

Minggu, 15 Maret 2026 | 11:00:00 WIB
Foto: Nikolas Becker/Wikimedia Commons CC

NUSA AKSARA - Filsuf Jerman Jürgen Habermas meninggal dunia pada usia 96 tahun. Pemikir yang dikenal luas melalui karya-karyanya tentang komunikasi, rasionalitas, dan teori sosial ini dianggap sebagai salah satu tokoh intelektual paling berpengaruh di Eropa modern.

Dilansir dari AP News, penerbitnya Suhrkamp menyatakan Habermas meninggal pada Sabtu (14/03/2026) di Starnberg, dekat Munich. Karya dan gagasannya selama beberapa dekade memberi pengaruh besar pada perkembangan filsafat, sosiologi, dan teori politik.

Habermas dikenal luas melalui karya dua jilidnya, The Theory of Communicative Action. Buku tersebut menjadi salah satu referensi penting dalam kajian komunikasi dan hubungan sosial di masyarakat modern.

Terlibat dalam perdebatan politik dan sosial

Sepanjang hidupnya, Habermas tidak hanya aktif di dunia akademik. Ia juga sering terlibat dalam perdebatan publik mengenai politik dan masa depan masyarakat Eropa.

Dilansir dari AP News, tulisannya melintasi berbagai disiplin ilmu dan mencoba menjelaskan bagaimana masyarakat modern membangun interaksi sosial melalui komunikasi rasional. Pendekatan ini membuat pemikirannya banyak dibahas di kalangan akademisi maupun pembuat kebijakan.

Habermas hidup melalui masa penting sejarah Jerman setelah Perang Dunia II. Ia berusia 15 tahun ketika Nazi Jerman runtuh pada 1945, sebuah pengalaman yang memengaruhi pandangannya terhadap politik dan demokrasi.

Ia pernah mengingat momen tersebut sebagai pengalaman penting dalam hidupnya. Habermas mengatakan bahwa saat itu “you saw suddenly that it was a politically criminal system in which you had lived.”

Pandangan kritis terhadap sejarah Jerman

Pada dekade 1980-an, Habermas menjadi salah satu tokoh penting dalam perdebatan akademik yang dikenal sebagai Historians’ Dispute. Perdebatan ini membahas bagaimana Jerman seharusnya memahami masa lalu Nazi dan identitas nasionalnya.

Dilansir dari AP News, sebagian sejarawan mencoba membandingkan kejahatan rezim Adolf Hitler dengan kekerasan yang terjadi di negara lain. Habermas menolak pendekatan tersebut karena dianggap dapat mengurangi besarnya kejahatan Nazi.

Ia berpendapat bahwa perbandingan semacam itu berpotensi mengaburkan tanggung jawab sejarah. Sikapnya membuat Habermas menjadi salah satu suara penting dalam diskusi tentang ingatan kolektif di Jerman.

Pengaruh pada politik Eropa

Habermas juga sering memberikan komentar mengenai perkembangan politik kontemporer. Ia mendukung naiknya Kanselir Jerman Gerhard Schröder pada 1998 dan kerap mengkritik kebijakan politik yang dianggap terlalu teknokratis.

Dilansir dari AP News, ia pernah mengkritik gaya kepemimpinan Kanselir Angela Merkel yang menurutnya kurang menghadirkan visi politik yang kuat. Dalam komentarnya pada 2016, ia menyebut efek kebijakan tersebut sebagai “the foam blanket of Merkel’s policy of sending people to sleep.”

Habermas juga menaruh perhatian besar pada masa depan integrasi Eropa. Ia menilai banyak pemimpin politik dan media kurang menunjukkan minat dalam membangun proyek politik Eropa yang lebih kuat.

Pada 2017, ia memuji Presiden Prancis Emmanuel Macron karena menyampaikan gagasan reformasi bagi Uni Eropa. Menurut Habermas, “the way he speaks about Europe makes a difference.”

Latar belakang dan perjalanan hidup

Jürgen Habermas lahir pada 18 Juni 1929 di Düsseldorf, Jerman. Ia dibesarkan di kota Gummersbach, tempat ayahnya bekerja sebagai kepala kamar dagang setempat.

Saat kecil, Habermas mengalami kondisi celah langit-langit mulut yang membuatnya harus menjalani beberapa operasi. Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi pemikirannya tentang bahasa dan komunikasi.

Habermas pernah mengatakan bahwa pengalaman itu membuatnya memahami pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia. Ia menyebut bahasa sebagai “a layer of commonality without which we as individuals cannot exist.”

Ia juga menilai tulisan memiliki keunggulan tersendiri dalam komunikasi. Menurutnya, “the written form conceals the flaws of the oral.”

Habermas meninggalkan tiga anak, Tilmann, Judith, dan Rebekka yang meninggal pada 2023. Istrinya, Ute Habermas-Wesselhoeft, meninggal dunia pada tahun lalu.

Warisan intelektual Habermas terus menjadi rujukan dalam studi filsafat, komunikasi, dan ilmu sosial hingga saat ini.

(CHY)

Tags

Terkini