NUSA AKSARA - Musim flu di Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda-tanda berakhir. Namun para pejabat kesehatan mencatat bahwa efektivitas vaksin flu pada musim ini lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dilansir dari AP News, data terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan kunjungan ke dokter dan rumah sakit akibat gejala flu terus menurun hingga pekan lalu. Jumlah negara bagian dengan aktivitas flu tinggi kini turun menjadi 16 wilayah.
Pakar vaksin dari Vanderbilt University, Dr. William Schaffner, mengatakan kondisi tersebut menjadi kabar yang melegakan bagi banyak pihak. Ia menyatakan bahwa “the winter respiratory virus season is slowly coming to a close, and we’re all very grateful for that.”
Efektivitas vaksin lebih rendah dari biasanya
Laporan CDC menunjukkan vaksin flu musim ini hanya memberikan perlindungan terbatas. Efektivitasnya diperkirakan berada pada kisaran 25 hingga 30 persen dalam mencegah orang dewasa mengalami gejala flu berat yang memerlukan perawatan medis.
Pada anak-anak yang sudah divaksin, perlindungan terlihat sedikit lebih tinggi. Anak yang menerima vaksin tercatat sekitar 40 persen lebih kecil kemungkinannya membutuhkan perawatan di dokter atau rumah sakit.
Dilansir dari AP News, para ahli biasanya menilai vaksin flu bekerja cukup baik jika efektivitasnya berada di kisaran 40 hingga 60 persen. Berdasarkan data historis CDC, tingkat perlindungan musim ini termasuk salah satu yang terendah dalam dua dekade terakhir.
Strain virus baru memengaruhi kinerja vaksin
Para peneliti menyebut kemunculan varian baru virus flu sebagai salah satu penyebab utama rendahnya efektivitas vaksin tahun ini. Varian tersebut berasal dari kelompok virus influenza A H3N2 yang menyebar luas pada awal musim dingin.
Versi terbaru virus ini dikenal sebagai subclade K. Para ahli menilai strain tersebut tampak lebih mudah menyebar dibanding varian sebelumnya.
Namun vaksin yang diproduksi untuk musim ini dirancang untuk melawan versi H3N2 yang berbeda. Ketidaksesuaian tersebut kemungkinan menjadi alasan mengapa perlindungan vaksin tidak sekuat yang diharapkan.
Dampak flu sepanjang musim
Dilansir dari AP News, CDC memperkirakan musim flu kali ini telah menyebabkan sedikitnya 27 juta kasus penyakit di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, sekitar 350.000 orang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Jumlah kematian akibat flu musim ini diperkirakan mencapai sekitar 22.000 orang. Angka tersebut relatif mirip dengan musim sebelumnya pada periode yang sama.
Di antara kasus kematian tersebut terdapat sedikitnya 101 anak. Dari data status vaksinasi yang tersedia, sekitar 85 persen anak yang meninggal belum mendapatkan vaksin flu secara lengkap.
Vaksin tetap dianggap penting
Meski efektivitasnya lebih rendah, para ahli kesehatan tetap menilai vaksin flu memiliki peran penting dalam mengurangi risiko penyakit berat. Vaksin dapat membantu menurunkan kemungkinan seseorang mengalami komplikasi serius atau meninggal akibat flu.
Schaffner menekankan bahwa vaksinasi tetap merupakan langkah perlindungan yang bermanfaat. Ia menjelaskan bahwa vaksin mungkin tidak selalu mencegah infeksi, tetapi dapat mengurangi tingkat keparahan penyakit.
Persiapan untuk musim flu berikutnya
Di tengah berakhirnya musim flu tahun ini, para ilmuwan sudah mulai menyiapkan vaksin untuk musim berikutnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan rekomendasi strain virus yang akan digunakan dalam pengembangan vaksin 2026–2027.
Dilansir dari AP News, WHO menyarankan agar vaksin berikutnya juga dirancang untuk menghadapi subclade K. Komite penasihat Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pekan ini juga menyetujui rekomendasi tersebut.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kecocokan vaksin dengan virus yang kemungkinan beredar pada musim flu berikutnya.
(CHY)