Pemerintah Kejar 1 Juta Sambungan Jargas 2028, Sidoarjo-Gresik Nyaris Rampung

Senin, 21 September 2026 | 10:01:01 WIB
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Pemerintah menargetkan 1 juta sambungan rumah jaringan gas bumi (jargas) hingga 2028, dengan tahap awal 119.379 sambungan di 15 kabupaten/kota pada 2025–2026. Dua proyek di Jawa Timur, Sidoarjo dan Gresik, kini mendekati rampung dengan progres fisik di atas 95%. Percepatan ini jadi ujian apakah jargas benar-benar bisa menggantikan LPG 3 kilogram yang selama ini sebagian dipenuhi impor.

Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman meninjau langsung proyek jargas di Gresik, Jawa Timur. Dari peninjauan itu, ia memastikan sejumlah hambatan perizinan yang sebelumnya menahan pengoperasian jaringan telah diselesaikan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

Pernyataan itu menegaskan satu hal: pipa yang sudah tertanam belum cukup. Infrastruktur hampir selesai tetap tidak bisa mengalirkan gas tanpa izin, badan usaha pengelola, alokasi gas, dan titik serah yang jelas.

Sidoarjo dan Gresik di Garis Akhir

Di Kabupaten Sidoarjo, pemerintah membangun tambahan 7.223 sambungan rumah di Kecamatan Waru dan Candi. Progres fisiknya sudah mencapai 98,6%.

Kabupaten tetangga, Gresik, tak jauh berbeda. Pembangunan jargas di sana mencapai progres fisik 95,4% dengan alokasi 7.363 sambungan rumah.

Kedua proyek ini adalah potret kecil dari ambisi yang jauh lebih besar. Pemerintah mematok tahap awal 119.379 sambungan rumah pada 2025–2026 di 15 kabupaten dan kota. Gresik dan Sidoarjo kebagian 14.586 sambungan.

Dari jumlah itu, pemerintah memperkirakan konsumsi LPG 3 kilogram bisa turun sekitar 36.600 tabung per bulan.

Izin hingga Harga Gas Diurus Paralel

Dudung menyebut persetujuan lingkungan hidup UKL-UPL telah terbit untuk kedua kabupaten. Rekomendasi teknis ruas jalan Kabupaten Gresik juga sudah dikeluarkan, begitu pula rekomendasi teknis perlintasan sungai yang telah ditandatangani.

"Kendala perizinan selama ini yang menahan pengoperasian sudah terselesaikan," kata Dudung dalam peninjauan di Gresik, Jumat (18/9/2026).

Pemerintah kini mendorong proses lanjutan berjalan paralel. Kementerian ESDM diminta menetapkan badan usaha pengelola sekaligus menerbitkan izin usaha niaga gas bumi.

SKK Migas bertugas memastikan alokasi gas dan titik serah. BPH Migas menyiapkan harga gas rumah tangga yang lebih murah dibandingkan LPG 3 kilogram.

Rangkaian pekerjaan itu menentukan apakah jargas benar-benar efektif. Sebab, hasil akhirnya baru terlihat setelah sambungan rumah terpasang dan gas mengalir ke dapur warga.

Harga Lebih Murah, Pasokan 24 Jam

Daya tarik jargas bagi konsumen ada pada harga dan kepastian akses. Pemerintah ingin gas bumi via pipa lebih murah daripada LPG 3 kilogram dan tersedia sepanjang waktu.

Di Sidoarjo, Dudung menyebut jaringan gas membuat masyarakat tak lagi bergantung pada ketersediaan tabung di pengecer.

"Sekarang dengan adanya jaringan gas ini, harganya akan semakin murah dan pasokan tersedia 24 jam apabila sewaktu-waktu dibutuhkan," ujarnya.

Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, selisih harga jadi faktor penting. Dudung mencontohkan potensi penurunan biaya energi dari sekitar Rp70.000 menjadi Rp20.000.

"Ini akan sangat membantu, artinya meringankan beban masyarakat," katanya.

Ujian Setelah Pipa Tertanam

Target 1 juta sambungan hingga 2028 bukan sekadar soal konstruksi. Dudung menempatkan pengurangan impor LPG sebagai salah satu tujuan utama percepatan jargas.

"Pembangunan jaringan gas akan terus berlanjut menuju sasaran 1 juta sambungan rumah. Tujuannya untuk mengurangi impor LPG," tegasnya.

Ia meminta dukungan setiap kementerian dan lembaga agar perizinan di lokasi berikutnya disiapkan sejak perencanaan dan diproses paralel.

Keberhasilan program ini akan diukur dari hal yang lebih sederhana: apakah gas benar-benar mengalir, harganya lebih murah dari LPG 3 kilogram, dan jaringan yang sudah dibangun tetap beroperasi dalam jangka panjang. Tanpa itu, target 1 juta sambungan hanya jadi angka di atas kertas.

Terkini