APBN 2027 Disahkan, IHSG Masih Konsolidasi di 6.118

Rabu, 30 September 2026 | 12:01:01 WIB
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tipis 0,06 persen ke level 6.118,04 pada perdagangan tengah pekan ini, sehari setelah DPR mengesahkan UU APBN 2027. Pasar saham masih bergerak konsolidasi jelang penutupan kuartal III 2026, meski anggaran negara dipatok ekspansif dengan belanja Rp4.106,26 triliun.

Paragraf pembuka: IHSG tersandung tipis 0,06 persen ke level 6.118,04 pada pembukaan perdagangan tengah pekan ini, mengekor indeks LQ45 yang juga merosot 0,22 persen. Pergerakan fluktuatif ini muncul di tengah bayang-bayang pelemahan indeks menjelang penutupan kuartal III 2026. Meski dibuka di zona merah, tekanan diperkirakan mereda seiring stabilnya nilai tukar rupiah.

Tekanan Jual Belum Benar-benar Reda

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyoroti bahwa laju indeks sebenarnya sempat mencoba bangkit dari level terendah hariannya. Pola itu membentuk long lower shadow, sinyal yang biasanya diincar trader.

Sayangnya, posisi penutupan masih kurang memuaskan. "IHSG membentuk long lower shadow namun karena masih ditutup di area negatif sehingga belum menunjukkan konfirmasi reversal," ucap Ratna.

Beberapa indikator teknikal lain juga belum memberi sinyal balik arah yang valid. Berkaca dari kondisi itu, IHSG kemungkinan besar masih bergerak sideways dalam rentang support dan resistance 6.050 hingga 6.200.

APBN 2027: Belanja Jumbo, Defisit Terkendali

Dari sisi fundamental domestik, pasar baru mendapat sentimen penting dari Senayan. Pada Selasa (29/9), DPR resmi mengesahkan Undang-Undang APBN 2027.

Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR sepakat mematok target pendapatan negara Rp3.435,10 triliun dan pagu belanja Rp4.106,26 triliun. Defisit fiskal dipatok Rp671,16 triliun atau setara 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Ratna menilai struktur anggaran itu cukup sehat dan terkontrol. "Postur APBN 2027 tersebut menunjukkan ekspansi fiskal yang relatif terjaga. Untuk kenaikan belanja terutama berasal dari belanja K/L, sedangkan transfer ke daerah dan target keseimbangan primer relatif tidak berubah," jelasnya.

Sektor Mana yang Berpeluang Cuan?

Kebijakan fiskal ekspansif ini diharapkan memutar roda ekonomi domestik, khususnya di sektor konsumsi dan iklim investasi. Sejumlah alokasi dana jumbo bisa jadi katalis positif bagi emiten terkait.

Anggaran pendidikan mendapat Rp824 triliun, perlindungan sosial Rp539,7 triliun, sektor kesehatan Rp244,9 triliun, dan ketahanan pangan Rp195,3 triliun. Emiten consumer goods, infrastruktur kesehatan, hingga agribisnis berpotensi ketiban durian runtuh dari derasnya dana ke sektor-sektor strategis itu.

Walau begitu, level defisit 2,4 persen tetap butuh pantauan ketat terkait ruang fiskal dan skema pembiayaan ke depannya.

Penutup: Bagi investor, momen tarik-ulur IHSG di rentang 6.050-6.200 masih bisa dimanfaatkan untuk mencermati rekomendasi saham, dengan catatan fluktuasi berpotensi makin liar saat closing kuartal ketiga.

Terkini