Kementerian ESDM Targetkan Ekspor Hilirisasi Nikel US$45 Miliar pada Akhir 2026

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:00:31 WIB
Kementerian ESDM menargetkan ekspor hasil hilirisasi nikel mencapai US$45 miliar pada akhir 2026.

NUSAAKSARA.COM — Kementerian ESDM menargetkan nilai ekspor hasil hilirisasi nikel menembus sedikitnya US$45 miliar atau setara Rp817,01 triliun pada akhir 2026. Realisasi hingga Agustus 2026 baru mencapai US$25,6 miliar atau sekitar Rp464,79 triliun, menyisakan sekitar US$19,4 miliar yang harus dikejar dalam empat bulan terakhir.

Target itu disampaikan Koordinator Kerja Sama dan Investasi Minerba Ditjen Minerba Kementerian ESDM Yan Abrar dalam Indonesia-Korea Energy Forum (IKEF) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali. Menurut dia, pemerintah menempuh jalur hilirisasi selektif untuk mengejar angka tersebut, bukan hilirisasi tanpa pertimbangan ekonomi yang jelas.

Lompatan Nilai Ekspor dalam Sembilan Tahun

Angka yang dikejar Kementerian ESDM bukan proyeksi tanpa dasar. Nilai ekspor produk nikel hilir melesat dari sekitar US$3,3 miliar pada 2017 menjadi sekitar US$40 miliar pada 2025.

Sepanjang tahun berjalan, capaian hingga Agustus 2026 sudah sekitar US$25,6 miliar, hampir menyentuh US$26 miliar. Dengan pola itu, pemerintah menargetkan setidaknya US$45 miliar untuk satu tahun penuh.

Hilirisasi Selektif Jadi Pegangan Pemerintah

Yan menegaskan prioritas diberikan pada proyek yang layak secara komersial, sesuai secara teknologi, bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan terhubung dengan permintaan industri yang sebenarnya.

"Untuk alasan ini, Indonesia mengejar hilir selektif daripada hilir tanpa pertimbangan ekonomi yang jelas. Kami ingin memprioritaskan proyek-proyek yang layak secara komersial, sesuai secara teknologi, bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan terhubung dengan permintaan industri yang sebenarnya," ujarnya.

Penerapan kebijakan itu dibarengi peningkatan kualitas produk pemurnian dalam negeri agar memenuhi standar komersial internasional. Salah satu penandanya adalah pengakuan merek nikel kelas 1 asal Indonesia di London Metal Exchange (LME).

"Sama pentingnya, merek nikel kelas 1 pertama di Indonesia telah menerima pengakuan dari London Metal Exchange. Ini menunjukkan bahwa produk olahan Indonesia dapat memenuhi standar pasar yang diakui secara internasional," terang Yan.

Rantai Nilai dari Nikel Sulfat hingga Sel Baterai

Pemerintah memproyeksikan rantai nilai nikel terus memanjang, mulai dari nikel sulfat, material prekursor, katoda, hingga sel baterai. Pengolahan komoditas itu diarahkan membentuk ekosistem terintegrasi yang mencakup penambangan, manufaktur, daur ulang, serta riset dan pengembangan sumber daya manusia.

"Oleh karena itu, tujuan kami bukan hanya untuk mengekspor lebih banyak produk mineral, tetapi juga untuk mengembangkan ekosistem yang terintegrasi dan kompetitif dari pertambangan dan pemrosesan hingga bahan canggih, manufaktur, daur ulang, penelitian, dan juga pengembangan sumber daya manusia," pungkasnya.

Ujian bagi Target Rp817 Triliun

Dengan realisasi US$25,6 miliar per Agustus, pemerintah perlu menambah sekitar US$19,4 miliar dalam empat bulan tersisa agar target US$45 miliar tercapai. Konversi ke rupiah memakai asumsi kurs Rp18.155 per dolar AS yang dipakai Kementerian ESDM dalam paparan tersebut.

Yang belum diungkap dalam forum itu adalah rincian proyek yang masuk kategori layak secara komersial, beserta sebaran investasi hilirisasi selektif tersebut. Tanpa rincian itu, target akhir tahun masih bergantung pada laju produksi smelter yang sudah beroperasi dan permintaan industri global terhadap produk nikel olahan Indonesia.

Terkini