Yield Obligasi AS 30 Tahun Tembus 5,48%, Tertinggi dalam 22 Tahun

Yield Obligasi AS 30 Tahun Tembus 5,48%, Tertinggi dalam 22 Tahun
Ilustrasi. Foto: Generate AI

NUSAAKSARA.COM — Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 30 tahun menembus 5,48 persen, level tertinggi sejak 2004. Kenaikan ini memperpanjang aksi jual obligasi global di tengah kekhawatiran inflasi yang tetap tinggi akibat lonjakan biaya energi dan belanja pemerintah yang menggunung. Tekanan di pasar surat utang terbesar dunia itu mulai merembet ke biaya pinjaman konsumen, dengan suku bunga hipotek 30 tahun kini menyentuh sekitar 7 persen.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun juga ikut melesat ke 5,20 persen, berdasarkan data yang dikutip Reuters. Kenaikan imbal hasil menandakan harga obligasi sedang tertekan, dan pasar mencermati level 6 persen untuk tenor 10 tahun sebagai ambang tekanan baru bagi pasar keuangan maupun korporasi AS.

Imbal hasil tenor 10 tahun telah menembus 5 persen bulan ini, level yang dalam beberapa dekade terakhir hanya sempat dicapai dalam waktu singkat. Posisi tersebut sudah naik 0,70 poin persentase sejak rapat kebijakan Federal Reserve pada Juni, dan melonjak 1,25 poin persentase sejak awal Maret.

Pendorong Utama: Ekspektasi The Fed dan Harga Minyak

Kepala Strategi Suku Bunga AS di TD Securities Gennadiy Goldberg menyebut kenaikan besar yield sejak Maret sebagian besar didorong oleh bergesernya ekspektasi terhadap The Fed.

"Kenaikan besar yield sejak Maret sebagian besar didorong oleh meningkatnya ekspektasi terhadap The Fed, sementara sisanya didorong oleh kombinasi ekspektasi pertumbuhan yang lebih tinggi dan kenaikan harga minyak," kata Goldberg dalam catatan risetnya.

Data aktivitas bisnis terbaru menunjukkan perekonomian AS masih tumbuh kuat, sementara tekanan inflasi justru meningkat. Kombinasi itu memperbesar peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga.

Biaya Kredit Konsumen Mulai Terdampak

Kenaikan imbal hasil mulai tercermin pada biaya pinjaman rumah tangga. Suku bunga hipotek AS tenor 30 tahun kini berada di sekitar 7 persen, sekitar 1 poin persentase lebih tinggi dibandingkan sebelum perang Iran, dan merupakan level tertinggi dalam dua tahun.

Kepala Strategi Investasi dan Makro di CreditSights Zachary Griffiths menilai pasar sedang menyesuaikan harga terhadap fundamental ekonomi AS yang tetap tangguh.

"Anda melihat penyesuaian harga atas beberapa hal - pertumbuhan ekonomi AS tetap tangguh, dan itu menjadi alasan yang lebih positif mengapa kita berada dalam lingkungan tingkat bebas risiko yang lebih tinggi," ujar Griffiths.

Tekanan Serentak di Jerman dan Jepang

Aksi jual tidak hanya terjadi di AS. Badan Keuangan Jerman memperkirakan pinjaman pemerintah federal mencapai rekor 525,5 miliar euro atau sekitar US$598 miliar pada 2026, dengan kebutuhan pembiayaan kembali yang diperkirakan masih meningkat.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun sempat menembus 3,6 persen bulan ini, tertinggi dalam 17 tahun. Di Jepang, bunga obligasi pemerintah tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak 1996.

Negara-negara dengan ekonomi terbesar dunia menghadapi kenaikan biaya pembayaran bunga bersamaan dengan kebutuhan belanja pemerintah yang membengkak.

Langkah Menkeu AS Belum Mampu Menahan Yield

Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah mengambil sejumlah langkah untuk menahan kenaikan biaya utang, termasuk intervensi membeli yen guna mencegah pejabat Jepang menjual Treasury AS. Bessent juga mempertimbangkan perluasan pembelian kembali surat utang pemerintah tenor 20 dan 30 tahun.

Upaya tersebut belum membendung kenaikan yield. AS kini mencatat salah satu tingkat imbal hasil tertinggi di antara negara anggota G7.

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyebut perekonomian AS menunjukkan "ketangguhan yang luar biasa". Pertumbuhan nominal ekonomi AS berada di kisaran 8 persen pada kuartal II, menandakan belum ada perlambatan signifikan.

"Treasury bersaing dengan pasar lainnya untuk dibeli dan pertanyaannya adalah, seberapa tinggi lagi yield itu bisa naik?" kata Hank Calenti, Strategis Pasar Global SMBC EMEA.

Apa Artinya bagi Investor Indonesia

Yield Treasury AS yang tinggi memperlebar selisih imbal hasil dengan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia, sehingga berpotensi menekan daya tarik aset berdenominasi rupiah. Investor global cenderung menahan dana di aset safe haven selama tingkat bebas risiko AS masih naik.

Bagi pelaku pasar obligasi dalam negeri, arah yield AS menjadi salah satu variabel utama yang menentukan aliran modal asing ke pasar SBN. Tekanan lanjutan akan bergantung pada apakah The Fed benar-benar menaikkan suku bunga lagi dalam rapat mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index