NUSAAKSARA.COM — Gempa tektonik bermagnitudo 6,9 yang mengguncang Nagqu, Tibet, China, pada Kamis malam (22/10) dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan hasil pemodelan tsunami menunjukkan dampak gelombang laut tidak menjangkau perairan Nusantara. Meski begitu, laporan otoritas China mencatat sedikitnya 16 orang meninggal dan 46 lainnya luka-luka akibat guncangan di kawasan dataran tinggi tersebut.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyampaikan gempa terjadi pada pukul 21.33.39 WIB dengan episenter di daratan, tepatnya pada koordinat 32,36 derajat Lintang Utara dan 93,74 derajat Bujur Timur. Titik pusat gempa berada sekitar 183 kilometer timur laut Nagqu dengan kedalaman 10 kilometer.
Pemodelan Tsunami dan Karakter Sesar di Dataran Tinggi Tibet
BMKG menegaskan hasil pemodelan tsunami tidak menunjukkan potensi gelombang besar yang mencapai wilayah Indonesia. Kesimpulan itu merujuk pada posisi episenter yang berada di daratan, jauh dari zona subduksi samudra.
"Berdasarkan hasil pemodelan tsunami, gempa bumi tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia," kata Wijayanto dalam keterangan resmi BMKG yang dikutip Antara, Jumat (23/10).
Berdasarkan kedalaman hiposenternya, gempa tergolong dangkal. BMKG menjelaskan guncangan dipicu aktivitas penyesaran di zona graben Dataran Tinggi Tibet, dengan analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan turun atau sesar normal. Hingga pukul 22.15 WIB pada Kamis malam, pemantauan BMKG belum mendeteksi gempa susulan di sekitar lokasi kejadian.
Selisih Angka Magnitudo antara BMKG, CENC, dan USGS
Laporan internasional mencatat magnitudo berbeda. Pusat Jaringan Gempa Bumi China (CENC) mencatat magnitudo 7,0 berdasarkan data awal, sementara Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) juga merilis angka 7,0 dengan kedalaman sekitar 18 kilometer dalam pembaruan datanya.
Perbedaan angka magnitudo lazim terjadi karena setiap lembaga memakai jaringan pemantauan dan metode analisis yang berbeda. BMKG sendiri menetapkan magnitudo 6,9 berdasarkan data stasiun yang tersedia.
Wilayah Nagqu berada di bagian utara Tibet, kawasan dataran tinggi dengan aktivitas seismik akibat interaksi lempeng tektonik India dan Eurasia. Episenter gempa berada di area berketinggian tinggi dan relatif jauh dari pusat perkotaan utama Tibet.
Korban Jiwa dan Kerusakan Bangunan di Nagqu
Laporan Associated Press Jumat pagi menyebutkan sedikitnya 16 orang meninggal dunia dan 46 orang mengalami luka-luka. Sebanyak 11 korban dilaporkan menderita luka serius.
Gempa menyebabkan 339 rumah dan 20 bangunan kandang ternak roboh. Angka tersebut masih merupakan laporan perkembangan dampak di China dan dapat berubah seiring berlanjutnya pendataan serta operasi pencarian dan penyelamatan.
Otoritas setempat mengerahkan lebih dari 1.600 personel untuk membantu penanganan darurat. Bantuan yang dikirim mencakup 1.000 unit hunian sementara, 3.000 tenda, tempat tidur lipat, lampu senter, serta pakaian hangat bagi warga terdampak di kawasan dataran tinggi bersuhu rendah.
Posisi Indonesia di Jalur Cincin Api
Meski gempa Tibet tidak berdampak langsung, BMKG terus memantau aktivitas seismik di wilayah Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama. Pemantauan dilakukan melalui jaringan sensor gempa dan sistem peringatan dini tsunami yang tersebar di berbagai daerah.
Masyarakat diimbau memantau informasi resmi BMKG dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi soal potensi tsunami. Informasi resmi menjadi acuan utama dalam situasi pascagempa besar di kawasan mana pun.