Rencana Ukraina Gabung Uni Eropa 2027 Tak Sepenuhnya Disambut Hangat

Rencana Ukraina Gabung Uni Eropa 2027 Tak Sepenuhnya Disambut Hangat
Ilustrasi. (Foto: Generate AI)

NUSA AKSARA - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali menegaskan ambisi negaranya untuk bergabung dengan Uni Eropa (UE) pada 2027 mendatang. Namun, target tersebut mulai memunculkan kekhawatiran dan perbedaan sikap di antara negara-negara anggota blok Eropa.

Dikutip dari laman Russia Today, Sabtu (31/1/2026), Zelenskyy menyampaikan harapannya melalui unggahan di media sosial X usai berdiskusi dengan Kanselir Austria Christian Stocker. Pembicaraan keduanya turut menyinggung perundingan terbaru antara Rusia, Amerika Serikat (AS), dan Ukraina yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

Zelenskyy menuturkan bahwa negosiasi tersebut tidak hanya membahas isu militer, tetapi juga mencakup jaminan keamanan jangka panjang bagi Ukraina.

“Bergabungnya Ukraina ke Uni Eropa adalah salah satu jaminan keamanan utama, bukan hanya bagi kami, tetapi juga bagi seluruh Eropa,” ujar Zelenskyy.

Ia menambahkan bahwa Kyiv kini mulai mendorong target waktu yang lebih konkret. “Itulah mengapa kami berbicara tentang tanggal yang jelas, 2027, dan kami mengandalkan dukungan mitra kami,” lanjutnya.

Meski demikian, wacana percepatan aksesi Ukraina tidak sepenuhnya disambut positif. Beberapa hari sebelumnya, Kanselir Austria Christian Stocker secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap jalur cepat keanggotaan Ukraina di UE.

“Saya bukan penggemar jalur cepat. Kriteria penerimaan harus dipenuhi, dan aturannya harus sama untuk semua kandidat,” tegas Stocker.

Isu keanggotaan Ukraina juga dikaitkan dengan rencana rekonstruksi besar-besaran senilai sekitar 800 miliar dolar AS yang didukung Amerika Serikat. Proposal tersebut, menurut laporan, telah disampaikan Komisi Eropa kepada negara-negara anggota UE secara tertutup.

Namun, sejumlah pemimpin Eropa dilaporkan merasa ragu, bukan semata karena nilai dana yang sangat besar, melainkan karena dokumen itu secara formal mengaitkan proses aksesi Ukraina dengan agenda rekonstruksi ekonomi pascaperang.

Penolakan keras datang dari Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban. Ia mengecam proposal tersebut yang, menurutnya, akan membebani UE dengan dana ratusan miliar euro untuk rekonstruksi dan kebutuhan militer Ukraina selama satu dekade ke depan.

“Dengarkan saya dengan jelas, Hongaria tidak akan membayar ini,” tulis Orban di media sosial X. Ia bahkan menegaskan bahwa tidak ada parlemen Hongaria yang akan menyetujui keanggotaan Ukraina dalam waktu dekat.

Orban selama ini dikenal sebagai salah satu penentang utama aksesi Ukraina ke UE. Ia berpendapat langkah tersebut berpotensi menyeret Uni Eropa ke dalam konfrontasi langsung dengan Rusia.

Di sisi lain, Rusia menyatakan tidak keberatan dengan rencana Ukraina bergabung dengan Uni Eropa. Namun Moskow menegaskan bahwa ambisi Kyiv untuk masuk NATO merupakan garis merah dan menjadi salah satu faktor utama konflik yang masih berlangsung hingga kini. (FITRI WULANDARI/CHY)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index