Ambisi Trump atas Greenland Bikin NATO Batasi Berbagi Intel dengan AS

Ambisi Trump atas Greenland Bikin NATO Batasi Berbagi Intel dengan AS
Ilustrasi. (Foto: Generate AI)

NUSA AKSARA - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan sekutu NATO kembali memanas setelah informasi strategis mengenai Greenland menjadi sumber kekhawatiran diplomat di Eropa. Beberapa pejabat NATO dikabarkan membatasi berbagi intelijen dengan Washington, menyusul kekhawatiran terkait kemungkinan penyalahgunaan data untuk mendukung ambisi politik mantan Presiden AS Donald Trump atas pulau Arktik itu.

Dikutip dari Russia Today, Rabu (21/1/2026), Trump dalam beberapa pekan terakhir secara terbuka menyatakan minatnya untuk memiliki Greenland. Wilayah otonom berpenduduk sekitar 6.000 jiwa yang secara resmi bagian dari Kerajaan Denmark ini dengan alasan keamanan dan pengaruh Rusia maupun China di kawasan Arktik. 

Pernyataan ini memicu friksi serius antara AS dan sekutu tradisionalnya di Eropa, termasuk Denmark dan negara-negara anggota NATO lainnya.

Menurut sejumlah laporan, sejumlah pejabat NATO memilih membatasi pertukaran informasi intelijen dengan pihak AS karena kekhawatiran bahwa informasi sensitif bisa dibocorkan ke Gedung Putih dan dipakai untuk memperkuat agenda politik tertentu terkait Greenland. 

Seorang sumber senior NATO mengungkapkan bahwa suasana kerja sama yang selama ini terjalin erat kini berubah drastis.

“Situasi ini menciptakan ketegangan dan ketidakpercayaan antara kolega Eropa dan Amerika di NATO,” ujar sumber tersebut.

Ia bahkan menggambarkan perubahan hubungan personal antarpejabat yang selama ini terjalin akrab.
“Dulu kami biasa minum bir bersama, sekarang semuanya terasa sangat aneh. Saya bertempur di Irak dan Afghanistan berdampingan dengan orang Amerika. Isu ini sangat mengganggu, dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” lanjutnya.

Menurut sumber tersebut, sejumlah pejabat NATO kini memilih untuk tidak berbicara terbuka dan lebih berhati-hati dalam berbagi informasi sensitif, karena khawatir data strategis dapat sampai ke Gedung Putih dan dimanfaatkan untuk memperkuat klaim atas Greenland.

Bahkan, sebagian pejabat NATO merasa langkah AS ini sebagai bentuk pengkhianatan terhadap sekutu.
“Banyak yang merasa Amerika telah menikam kami dari belakang,” ungkap sumber itu.

Sumber intelijen senior bahkan menggambarkan situasi ini sebagai ketegangan dan ketidakpercayaan antar sekutu yang belum pernah terjadi sejak beberapa dekade terakhir.

Greenland, yang kaya akan sumber daya mineral dan memiliki posisi strategis di kawasan Arktik, bukan sekadar wilayah terpencil. Letaknya yang dekat dengan jalur pertahanan Atlantik Utara membuatnya menjadi titik penting dalam strategi militer dan geopolitik Barat. 

Para pemimpin Denmark dan Greenland sendiri telah menegaskan bahwa kedaulatan wilayah tersebut harus dihadapi melalui dialog dan hukum internasional, bukan melalui tekanan politik atau militer.

Ketegangan semacam ini mencerminkan tantangan yang lebih luas di dalam NATO, di mana aliansi yang pernah dianggap solid kini menghadapi perdebatan tentang peran Amerika Serikat dan cara terbaik menjaga stabilitas kawasan Arktik tanpa merusak hubungan transatlantik. (FITRI WULANDARI/CHY)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index