NUSA AKSARA – Mantan Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, Lord Peter Mandelson, resmi mengundurkan diri dari Partai Buruh Inggris menyusul mencuatnya kembali pengawasan publik terhadap hubungannya dengan mendiang terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein.
Keputusan ini diambil setelah pemerintah Amerika Serikat merilis dokumen-dokumen baru yang kembali menyorot keterkaitan Mandelson dengan Epstein.
Mengutip laporan Russia Today, Sabtu (7/2/2026), Mandelson mengumumkan pengunduran dirinya dari keanggotaan Partai Buruh pada Minggu lalu. Langkah tersebut, menurutnya, diambil demi menghindari “rasa malu lebih lanjut” bagi partai, di tengah meningkatnya sorotan publik dan politik.
Dalam surat resmi yang dikirimkan kepada Sekretaris Jenderal Partai Buruh Hollie Ridley, Mandelson menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan pelanggaran hukum apa pun. Ia secara tegas membantah tuduhan yang menyebut dirinya menerima pembayaran finansial dari Epstein lebih dari dua dekade lalu.
“Saya percaya tuduhan bahwa Jeffrey Epstein melakukan pembayaran finansial kepada saya lebih dari 20 tahun lalu adalah palsu,” tulis Mandelson, seraya menambahkan bahwa ia tidak memiliki catatan maupun ingatan terkait penerimaan dana tersebut.
Meski demikian, Mandelson menyatakan bahwa keputusannya mundur murni demi kepentingan partai.
“Saat menyelidiki masalah ini, saya tidak ingin Partai Buruh mengalami rasa malu lebih lanjut, dan karena itu saya mengundurkan diri dari keanggotaan,” lanjutnya.
Dokumen AS dan Dugaan Pembayaran
Pengunduran diri Mandelson terjadi tak lama setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis sejumlah dokumen baru terkait Epstein, berdasarkan undang-undang yang mewajibkan pengungkapan catatan federal.
Berkas-berkas tersebut mencakup laporan rekening bank yang menunjukkan dugaan tiga pembayaran terpisah senilai 25.000 dolar AS dari rekening JP Morgan milik Epstein ke rekening yang dikaitkan dengan Mandelson pada periode 2003–2004.
Selain itu, dokumen tersebut juga memuat email serta sejumlah foto, termasuk gambar yang telah disunting yang memperlihatkan Mandelson berdiri di samping seorang perempuan yang tidak dikenal. Mandelson menyatakan dirinya tidak dapat memastikan lokasi maupun konteks pengambilan foto-foto tersebut.
Departemen Kehakiman AS sendiri menegaskan bahwa dokumen-dokumen tersebut dirilis tanpa konteks lengkap, serta memperingatkan bahwa penyebutan nama seseorang di dalam berkas tidak secara otomatis menunjukkan kesalahan pidana.
Riwayat Kontroversi Lama
Mandelson sebelumnya telah dicopot dari jabatannya sebagai Duta Besar Inggris untuk AS pada tahun lalu, setelah terungkap bahwa ia masih menjalin kontak dengan Epstein bahkan setelah Epstein dihukum pada 2008 atas pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
Ia sempat menyatakan penyesalannya atas hubungan tersebut dan menggambarkan Epstein sebagai “pembohong kriminal yang karismatik”. Dalam pernyataan terbarunya, Mandelson juga kembali menyampaikan permintaan maaf kepada para korban Epstein.
Ia mengatakan bahwa suara para korban “seharusnya sudah didengar sejak lama.”
Reaksi Politik di Inggris
Pengungkapan terbaru ini memicu gelombang reaksi politik baru di Inggris. Juru bicara Partai Konservatif menuduh Perdana Menteri Keir Starmer gagal bertindak tegas dengan tidak “mengusir” Mandelson lebih awal.
Sementara itu, tokoh-tokoh dari Partai Liberal Demokrat dan Partai Buruh menyatakan bahwa Mandelson, Pangeran Andrew, serta siapa pun yang memiliki informasi relevan terkait aktivitas Epstein memiliki kewajiban moral untuk bekerja sama dengan otoritas Amerika Serikat.
Kasus ini kembali menegaskan bahwa bayang-bayang skandal Epstein masih terus mengguncang politik global, bahkan bertahun-tahun setelah kematiannya.
(Fitri Wulandari/CHY)